Windows Live Messenger

Minggu, 10 Juni 2012

SISTEM REPRODUKSI

SISTEM REPRODUKSI

Disusun oleh:

KELOMPOK IV
Nama :
Nanik Lestari
Frandianus Agustinus
Sef Sirten Ef




SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PERSADA KHATULISTIWA SINTANG
TAHUN AKADEMIK 2011/2012


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat kasih dan karunia-Nyalah, kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini tepat pada waktunya. Ada pun tema yang diangkat dalam makalah ini adalah membahas tentang “Sistem Reproduksi”. Makalah ini dibuat dan dipersiapkan dalam rangka untuk memenuhi tugas terstruktur pada mata kulaiah Bio-Reproduksi.
Dalam penyelesaian makalah ini kami menyadari bahwa hal ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Maka dari itu penulis ingin mengucapkan terina kasih terutama kepada Ibu Klara Niuntri, S.P, sebagai Dosen Pegampuh Mata Kuliah Bio-Reproduksi yang telah menyumbangkan pengetahuannya untuk kami para mahasisawanya, terutama pengetahuan yang berkenaan dengan tema yang dibahas dalam makalah ini, sehingga memotivasi kami untuk membahas tema ini secara lebih mendalam. Ucapan terima kasih juga tak lupa kami berikan kepada teman-teman sekelas, yang sama-sama berjuang dan saling menyemangati selama proses penulisan makalah ini sampai selesainya.
Akhirnya, disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki, kami menyadari bahwa karya tulis ini belumlah sempurna dan masih terdapat kekurangannya. Maka dari itu, dengan kerendahan hati penulis menerima kritik dan saran yang membangun demi perbaikan tulisan ini ke arah yang lebih baik. kami juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pembaca, terutama untuk menambah pengetahuan kita dalam mata mempelajari Bio-Reproduksi

Sintang, Juni 2012


Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar tidak punah. Bayangkan apabila ada suatu organisme yang tidak melakukan reproduksi, tentu saja akan menganggu keseimbangan alam. Pada rantai makanan, bayangkan jika salah satu mata rantai tersebut hilang. Tentu akan tidak seimbang proses alam ini. Yang akan menghancurkan sebuah ekosistem,atau bahkan peradaban.
Sistem reproduksi vertebata jantan terdiri atas sepasang testis, saluran rreproduksi jantan, kelenjar seks asesoris (pada mamlia) dan organ kopulatoris (pada hewan-hewan dengan fertilisasi internal). Sistem reproduksi betina terdiri atas sepasang ovarium pada beberapa hanya satu) dan saluran reproduksi betina. Pada mamlia yang dilengkapi organ kelamin luar (vulva) dan kelenjar susu (Tenzer, 2003:19).
Reproduksi vertebrata pada umumnya sama, tetapi karena tempat hidup, perkembangan anatomi, dan cara hidup yang berbeda menyebabkan adanya perbedaan pada proses fertilisasi. Misalnya hewan akuatik pada umumnya melakukan fertilisasi di luar tubuh (fertilisasi eksterna), sedangkan hewan darat melakukan fertilisasi di dalam tubuh (fertilisasi interna). (Pratiwi,1996:101). Bagi hewan yang melakukan fertilisasi interna dilengkapi dengan adanya organ kopulatori, yaitu suatu organ yang berfungsi menyalurkan sperma dari organisme jantan ke betina. Untuk lebih jelasnya bagaimana perbandingan anatomi sistem reproduksi hewan vertebrata yang meliputi amphibi, aves, reptil, mamalia, dan pisces.

B. Rumusan Masalah
Untuk membatasi permasalahan dan guna mengatasi kesimpangsiuran maka dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apa sajakah alat reproduksi pada manusia?
2. Bagaimanakah proses menstruasi pada wanita?
3. Bagaimanakah proses terjadinya fertilisasi sampai laktasi?
4. Apa sajakah penyebab kelainan pada sistem reproduksi?
5. Apa sajakah alat reproduksi pada hewan vertebrata dan invertebrta?
C. Tujuan Penulisan
Ada pun tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui alat reproduksi pada manusia.
2. Untuk mengetahui proses menstruasi pada wanita.
3. Untuk mengetahui proses terjadinya fertilisasi sampai laktasi.
4. Untuk mengetahui penyebab kelainan pada sistem reproduksi.
5. Untuk mengetahui alat reproduksi pada hewan vertebrata dan invertebrta.

D. Manfaat Penulisan Makalah
Dalam setiap pembahasan dari setiap masalah sudah pasti mempunyai manfaat tertentu. Berhubungan dengan hal tersebut, ada pun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menanamkan kesadaran akan pentingnya penulisan karya tulis.
2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara ilmiah.
3. Meningkatkan motivasi untuk menganalisis, menelaah suatu permasalahan dan mengambil kesimpulan seta memberi saran bagaimana baiknya.
4. Dapat menambah wawasan pengetahuan bagi kita.
5. Dapat menjadi tambahan referensi perpustakaan di STKIP Persada Khatulistiwa.


BAB II
PEMBAHASAN


A. Sistem Reproduksi pada Manusia - Pria
1. Alat kelamin dalam
Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan kelenjar asesoris.


Gambar 1: Alat Repropduksi Pria
a. Testis
Testis adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia. Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis dibungkus oleh skrotum, kantong kulit di bawah perut. Selama masa pubertas, testis berkembang untuk
memulai spermatogenesis. Ukuran testis bergantung pada produksi sperma (banyaknya spermatogenesis), cairan intersisial, dan produksi cairan dari sel Sertoli.
Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk diejakulasikan), akan bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen, dan epididimis. Bila mendapat rangsangan seksual, spermatozoa dan cairannya (semua disebut air mani) akan dikeluarkan ke luar tubuh melalui vas deferen dan akhirnya, penis.

b. Saluran reproduksi
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.

c. Kelenjar kelamin
Kumpulan kelenjar aksesoris terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretralis. Sebelum ejakulasi, kelenjar tersebut mensekresikan mucus bening yang menetralkan setiap urine asam yang masih tersisa dalam uretra. Sel-sel sperma dapat bergerak dan mungkin aktif mengadakan metabolisme setelah mengadakan kontak dengan plasma semen. Plasma semen mempunyai dua fungsi utama yaitu: berfungsi sebagai media pelarut dan sebagai pengaktif bagi sperma yang mula-mula tidak dapat bergerak serta melengkapi sel-sel dengan substrat yang kaya akan elektrolit (natrium dan kalium klorida), nitrogen, asam sitrat, fruktosa, asam askorbat, inositol, fosfatase sera ergonin, dan sedikit vitamin-vitamin serta enzim-enzim.

2. Alat kelamin luar
a. Penis
Penis (dari bahasa Latin yang artinya “ekor”, akar katanya sama dengan phallus, yang berarti sama) adalah alat kelamin jantan. Penis merupakan organ eksternal, karena berada di luar ruang tubuh. Pada manusia, penis terdiri atas tiga bangunan silinder berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus uretra. Ujung penis disebut dengan glan penis. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi). Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi.

b. Skrotum
Skrotum adalah kantung (terdiri dari kulit dan otot) yang membungkus testis atau buah zakar. Skrotum terletak di antara penis dan anus serta di depan perineum. Pada wanita, bagian ini serupa dengan labia mayora. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur.
Fungsi utama skrotum adalah untuk memberikan kepada testis suatu lingkungan yang memiliki suhu 1-8oC lebih dingin dibandingkan temperature rongga tubuh. Fungsi ini dapat terlaksana disebabkan adanya pengaturan oleh sistem otot rangkap yang menarik testis mendekati dinding tubuh untuk memanasi testis atau membiarkan testis menjauhi dinding tubuh agar lebih dingin. Pada manusia, suhu testis sekitar 34°C. Pengaturan suhu dilakukan dengan mengeratkan atau melonggarkan skrotum, sehingga testis dapat bergerak mendekat atau menjauhi tubuh. Testis akan diangkat mendekati tubuh pada suhu dingin dan bergerak menjauh pada suhu panas.

3. Hormon Pada Pria
Sistem reproduksi laki-laki secara keseluruhan bergantung pada hormon, yang merangsang atau mengatur aktivitas sel-sel atau organ. Hormon-hormon utama yang terlibat dalam fungsi sistem reproduksi laki-laki adalah follicle-stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH) dan testosteron.
FSH dan LH diproduksi oleh kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak. FSH diperlukan untuk memproduksi sperma (spermatogenesis), dan LH merangsang produksi testosteron, yang diperlukan untuk melanjutkan proses spermatogenesis. Testosteron juga penting dalam pengembangan karakteristik pria, termasuk massa dan kekuatan otot, distribusi lemak, massa tulang dan dorongan / hasrat seks.

4. Apakah Seorang Pria dapat Mengalami “Menopause” ?
Menopause adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan akhir dari fungsi normal menstruasi wanita. Seorang wanita menopause ditandai dengan perubahan dalam produksi hormon. Tetapi testis tidak seperti ovarium yang bisa kehilangan kemampuan untuk membuat hormonnya. Seorang pria yang sehat masih dapat memproduksi spermanya pada usia 80 tahun atau lebih.
Di sisi lain, perubahan secara perlahan-lahan pada fungsi testis dapat terjadi pada usia 45 sampai 50 tahun, dan perubahan drastis terjadi ketika memasuki usia 70 tahun. Kebanyakan pria, produksi hormonnya bisa tetap normal meskipun menginjak usia tua. Sedangkan sisanya mengalami penurunan akibat penyakit seperti diabetes. Selain itu penurunan fungsi testis yang menyebabkan gejala kelelahan, depresi, atau impotensi masih belum jelas kaitannya.
Bisakah “Menopause” pada pria disembuhkan? Jika kadar hormon testosteron dalam darah rendah, terapi dengan injeksi hormon dapat meringankan gejala seperti kehilangan gairah seks, depresi, dan kelelahan. Namun, hal tersebut dapat memperparah kanker prostat dan aterosklerosis (pengerasan pada arteri).
Sebelum memulai terapi penambahan hormon, seorang pria harus menjalani pemeriksaan fisik lengkap dan uji laboratorium terlebih dahulu.

B. Sistem Reproduksi pada Manusia – Wanita
1. Organ Reproduksi Dalam
Organ reproduksi dalam wanita terdiri dari ovarium dan saluran reproduksi (saluran kelamin).
Gambar 2: Organ Reproduksi Wanita
a. Ovarium
Ovarium (indung telur) berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan panjang 3 – 4 cm. Fungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) serta hormon estrogen dan progesteron.
b. Oviduk
Oviduk (tuba falopii) atau saluran telur berjumlah sepasang (di kanan dan kiri ovarium) dengan panjang sekitar 10 cm. Oviduk berfungsi untuk menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus.
c. Uterus
Uterus (kantung peranakan) atau rahim merupakan rongga pertemuan oviduk kanan dan kiri yang berbentuk seperti buah pir dan bagian bawahnya mengecil yang disebut serviks (leher rahim). Uterus manusia berfungsi sebagai tempat perkembangan zigot apabila terjadi fertilisasi. Uterus terdiri dari dinding berupa lapisan jaringan yang tersusun dari beberapa lapis otot polos dan lapisan endometrium. Lapisan endometrium (dinding rahim) tersusun dari sel-sel epitel dan membatasi uterus. Lapisan endometrium menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Lapisan endometrium akan menebal pada saat ovulasi (pelepasan ovum dari ovarium) dan akan meluruh pada saat menstruasi.
d. Vagina
Vagina merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi bagian dalam pada wanita. Vagina bermuara pada vulva. Vagina memiliki dinding yang berlipat-lipat dengan bagian terluar berupa selaput berlendir, bagian tengah berupa lapisan otot dan bagian terdalam berupa jaringan ikat berserat.

2. Organ Reproduksi Luar
Organ reproduksi luar pada wanita berupa vulva. Vulva merupakan celah paling luar dari organ kelamin wanita. Vulva terdiri dari mons pubis. Mons pubis (mons veneris) merupakan daerah atas dan terluar dari vulva yang banyak menandung jaringan lemak. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi oleh rambut. Di bawah mons pubis terdapat lipatan labium mayor (bibir besar) yang berjumlah sepasang. Di dalam labium mayor terdapat lipatan labium minor (bibir kecil) yang juga berjumlah sepasang. Labium mayor dan labium minor berfungsi untuk melindungi vagina. Gabungan labium mayor dan labium minor pada bagian atas labium membentuk tonjolan kecil yang disebut klitoris.
Klitoris merupakan organ erektil yang dapat disamakan dengan penis pada pria. Meskipun klitoris secara struktural tidak sama persis dengan penis, namun klitoris juga mengandung korpus kavernosa. Pada klitoris terdapat banyak pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa.
Pada vulva bermuara dua saluran, yaitu saluran uretra (saluran kencing) dan saluran kelamin (vagina). Pada daerah dekat saluran ujung vagina terdapat himen atau selaput dara. Himen merupakan selaput mukosa yang banyak mengandung pembuluh darah.

3. Hormon pada Wanita
a. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
b. H-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan LH
c. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk mengeluarkan prolaktin
Pada wanita, peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan reproduksi jauh lebih kompleks dibandingkan pada pria. Salah satu peran hormon pada wanita dalam proses reproduksi adalah dalam siklus menstruasi.

4. Siklus Menstruasi
Menstruasi (haid) adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus yang disertai pelepasan endometrium. Menstruasi terjadi jika ovum tidak dibuahi oleh sperma. Siklus menstruasi sekitar 28 hari. Pelepasan ovum yang berupa oosit sekunder dari ovarium disebut ovulasi, yang berkaitan dengan adanya kerjasama antara hipotalamus dan ovarium. Hasil kerjasama tersebut akan memacu pengeluaran hormon-hormon yang mempengaruhi mekanisme siklus menstruasi.
Untuk mempermudah penjelasan mengenai siklus menstruasi, patokannya adalah adanya peristiwa yang sangat penting, yaitu ovulasi. Ovulasi terjadi pada pertengahan siklus (½ n) menstruasi. Untuk periode atau siklus hari pertama menstruasi, ovulasi terjadi pada hari ke-14 terhitung sejak hari pertama menstruasi. Siklus menstruasi dikelompokkan menjadi empat fase, yaitu fase menstruasi, fase pra-ovulasi, fase ovulasi, fase pasca-ovulasi.
a. Fase menstruasi
Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Turunnya kadar estrogen dan progesteron menyebabkan lepasnya ovum dari dinding uterus yang menebal (endometrium). Lepasnya ovum tersebut menyebabkan endometrium sobek atau meluruh, sehingga dindingnya menjadi tipis. Peluruhan pada endometrium yang mengandung pembuluh darah menyebabkan terjadinya pendarahan pada fase menstruasi. Pendarahan ini biasanya berlangsung selama lima hari. Volume darah yang dikeluarkan rata-rata sekitar 50mL.

b. Fase pra-ovulasi
Pada fase pra-ovulasi atau akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan hormon gonadotropin. Gonadotropin merangsang hipofisis untuk mengeluarkan FSH. Adanya FSH merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang mengelilingi satu oosit primer. Folikel primer dan oosit primer akan tumbuh sampai hari ke-14 hingga folikel menjadi matang atau disebut folikel de Graaf dengan ovum di dalamnya. Selama pertumbuhannya, folikel juga melepaskan hormon estrogen. Adanya estrogen menyebabkan pembentukan kembali (proliferasi) sel-sel penyusun dinding dalam uterus dan endometrium. Peningkatan konsentrasi estrogen selama pertumbuhan folikel juga mempengaruhi serviks untuk mengeluarkan lendir yang bersifta basa. Lendir yang bersifat basa berguna untuk menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung lingkungan hidup sperma.
c. Fase ovulasi
Pada saat mendekati fase ovulasi atau mendekati hari ke-14 terjadi perubahan produksi hormon. Peningkatan kadar estrogen selama fase pra-ovulasi menyebabkan reaksi umpan balik negatif atau penghambatan terhadap pelepasan FSH lebih lanjut dari hipofisis. Penurunan konsentrasi FSH menyebabkan hipofisis melepaskan LH. LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf. Pada saat inilah disebut ovulasi, yaitu saat terjadi pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf dan siap dibuahi oleh sperma. Umunya ovulasi terjadi pada hari ke-14.

d. Fase pasca-ovulasi
Pada fase pasca-ovulasi, folikel de Graaf yang ditinggalkan oleh oosit sekunder karena pengaruh LH dan FSH akan berkerut dan berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum tetap memproduksi estrogen (namun tidak sebanyak folikel de Graaf memproduksi estrogen) dan hormon lainnya, yaitu progesteron. Progesteron mendukung kerja estrogen dengan menebalkan dinding dalam uterus atau endometrium dan menumbuhkan pembuluh-pembuluh darah pada endometrium. Progesteron juga merangsang sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada payudara. Keseluruhan fungsi progesteron (juga estrogen) tersebut berguna untuk menyiapkan penanaman (implantasi) zigot pada uterus bila terjadi pembuahan atau kehamilan.
Proses pasca-ovulasi ini berlangsung dari hari ke-15 sampai hari ke-28. Namun, bila sekitar hari ke-26 tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan berubah menjadi korpus albikan. Korpus albikan memiliki kemampuan produksi estrogen dan progesteron yang rendah, sehingga konsentrasi estrogen dan progesteron akan menurun. Pada kondisi ini, hipofisis menjadi aktif untuk melepaskan FSH dan selanjutnya LH, sehingga fase pasca-ovulasi akan tersambung kembali dengan fase menstruasi berikutnya.

5. Fertilisasi
Fertilisasi atau pembuahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung ovum dibuahi oleh sperma. Fertilisasi umumnya terjadi segera setelah oosit sekunder memasuki oviduk. Namun, sebelum sperma dapat memasuki oosit sekunder, pertama-tama sperma harus menembus berlapis-lapis sel granulosa yang melekat di sisi luar oosit sekunder yang disebut korona radiata. Kemudian, sperma juga harus menembus lapisan sesudah korona radiata, yaitu zona pelusida. Zona pelusida merupakan lapisan di sebelah dalam korona radiata, berupa glikoprotein yang membungkus oosit sekunder.
Sperma dapat menembus oosit sekunder karena baik sperma maupun oosit sekunder saling mengeluarkan enzim dan atau senyawa tertentu, sehingga terjadi aktivitas yang saling mendukung.
Pada saat satu sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit di bagian korteks oosit sekunder mengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan zona pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lainnya. Adanya penetrasi sperma juga merangsang penyelesaian meiosis II pada inti oosit sekunder , sehingga dari seluruh proses meiosis I sampai penyelesaian meiosis II dihasilkan tiga badan polar dan satu ovum yang disebut inti oosit sekunder. Segera setelah sperma memasuki oosit sekunder, inti (nukleus) pada kepala sperma akan membesar. Sebaliknya, ekor sperma akan berdegenerasi. Kemudian, inti sperma yang mengandung 23 kromosom (haploid) dengan ovum yang mengandung 23 kromosom (haploid) akan bersatu menghasilkan zigot dengan 23 pasang kromosom (2n) atau 46 kromosom.

6. Gestasi (Kehamilan)
Zigot akan ditanam (diimplantasikan) pada endometrium uterus. Dalam perjalannya ke uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Hasil pembelahan tersebut berupa sekelompok sel yang sama besarnya, dengan bentuk seperti buah arbei yang disebut tahap morula.
Morula akan terus membelah sampai terbentuk blastosit. Tahap ini disebut blastula, dengan rongga di dalamnya yang disebut blastocoel (blastosol). Blastosit terdiri dari sel-sel bagian luar dan sel-sel bagian dalam.

a. Sel-sel bagian luar blastosit
Sel-sel bagian luar blastosit merupakan sel-sel trofoblas yang akan membantu implantasi blastosit pada uterus. Sel-sel trofoblas membentuk tonjolan-tonjolan ke arah endometrium yang berfungsi sebagai kait. Sel-sel trofoblas juga mensekresikan enzim proteolitik yang berfungsi untuk mencerna serta mencairkan sel-sel endometrium. Cairan dan nutrien tersebut kemudian dilepaskan dan ditranspor secara aktif oleh sel-sel trofoblas agar zigot berkembang lebih lanjut. Kemudian, trofoblas beserta sel-sel lain di bawahnya akan membelah (berproliferasi) dengan cepat membentuk plasenta dan berbagai membran kehamilan.
Berbagai macam membran kehamilan berfungsi untuk membantu proses transportasi, respirasi, ekskresi dan fungsi-fungsi penting lainnya selama embrio hidup dalam uterus. Selain itu, adanya lapisan-lapisan membran melindungi embrio terhadap tekanan mekanis dari luar, termasuk kekeringan.
• Sakus vitelinus
Sakus vitelinus (kantung telur) adalah membran berbentuk kantung yang pertama kali dibentuk dari perluasan lapisan endoderm (lapisan terdalam pada blastosit). Sakus vitelinus merupakan tempat pembentukan sel-sel darah dan pembuluh-pembuluh darah pertama embrio. Sakus vitelinus berinteraksi dengan trofoblas membentuk korion.
• Korion
Korion merupakan membran terluar yang tumbuh melingkupi embrio. Korion membentuk vili korion (jonjot-jonjot) di dalam endometrium. Vili korion berisi pembuluh darah emrbrio yang berhubungan dengan pembuluh darah ibu yang banyak terdapat di dalam endometrium uterus. Korion dengan jaringan endometrium uterus membentuk plasenta, yang merupakan organ pemberi nutrisi bagi embrio.
• Amnion
Amnion merupakan membran yang langsung melingkupi embrio dalam satu ruang yang berisi cairan amnion (ketuban). Cairan amnion dihasilkan oleh membran amnion. Cairan amnion berfungsi untuk menjaga embrio agar dapat bergerak dengan bebas, juga melindungi embrio dari perubahan suhu yang drastis serta guncangan dari luar.
• Alantois
Alantois merupakan membran pembentuk tali pusar (ari-ari). Tali pusar menghubungkan embrio dengan plasenta pada endometrium uterus ibu. Di dalam alantois terdapat pembuluh darah yang menyalurkan zat-zat makanan dan oksigen dari ibu dan mengeluarkan sisa metabolisme, seperti karbon dioksida dan urea untuk dibuang oleh ibu.

b. Sel-sel bagian dalam blastosit
Sel-sel bagian dalam blastosit akan berkembang menjadi bakal embrio (embrioblas). Pada embrioblas terdapat lapisan jaringan dasar yang terdiri dari lapisan luar (ektoderm) dan lapisan dalam (endoderm). Permukaan ektoderm melekuk ke dalam sehingga membentuk lapisan tengah (mesoderm). Selanjutnya, ketiga lapisan tersebut akan berkembang menjadi berbagai organ (organogenesis) pada minggu ke-4 sampai minggu ke-8.
Ektoderm akan membentuk saraf, mata, kulit dan hidung. Mesoderm akan membentuk tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limpa dan kelenjar kelamin. Endoderm akan membentuk organ-organ yang berhubungan langsung dengan sistem pencernaan dan pernapasan.
Selanjutnya, mulai minggu ke-9 sampai beberapa saat sebelum kelahiran, terjadi penyempurnaan berbagai organ dan pertumbuhan tubuh yang pesat. Masa ini disebut masa janin atau masa fetus.

7. Persalinan
Persalinan merupakan proses kelahiran bayi. Pada persalinan, uterus secara perlahan menjadi lebih peka sampai akhirnya berkontraksi secara berkala hingga bayi dilahirkan. Penyebab peningkatan kepekaan dan aktifitas uterus sehingga terjadi kontraksi yang dipengaruhi faktor-faktor hormonal dan faktor-faktor mekanis.
Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap kontraksi uterus, yaitu estrogen, oksitosin, prostaglandin dan relaksin.
a. Estrogen
Estrogen dihasilkan oleh plasenta yang konsentrasinya meningkat pada saat persalinan. Estrogen berfungsi untuk kontraksi uterus.
b. Oksitosin
Oksitosin dihasilkan oleh hipofisis ibu dan janin. Oksitosin berfungsi untuk kontraksi uterus.
c. Prostaglandin
Prostaglandin dihasilkan oleh membran pada janin. Prostaglandin berfungsi untuk meningkatkan intensitas kontraksi uterus.
d. Relaksin
Relaksin dihasilkan oleh korpus luteum pada ovarium dan plasenta. Relaksin berfungsi untuk relaksasi atau melunakkan serviks dan melonggarkan tulang panggul sehingga mempermudah persalinan.

8. Laktasi
Kelangsungan bayi yang baru lahir bergantung pada persediaan susu dari ibu. Produksi air susu (laktasi) berasal dari sepasang kelenjar susu (payudara) ibu. Sebelum kehamilan, payudara hanya terdiri dari jaringan adiposa (jaringan lemak) serta suatu sistem berupa kelenjar susu dan saluran-saluran kelenjar (duktus kelenjar) yang belum berkembang.
Pada masa kehamilan, pertumbuhan awal kelenjar susu dirancang oleh mammotropin. Mammotropin merupakan hormon yang dihasilkan dari hipofisis ibu dan plasenta janin. Selain mammotropin, ada juga sejumlah besar estrogen dan progesteron yang dikeluarkan oleh plasenta, sehingga sistem saluran-saluran kelenjar payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan kelenjar payudara dan jaringan lemak disekitarnya juga bertambah besar.
Walaupun estrogen dan progesteron penting untuk perkembangan fisik kelenjar payudara selama kehamilan, pengaruh khusus dari kedua hormon ini adalah untuk mencegah sekresi dari air susu. Sebaliknya, hormon prolaktin memiliki efek yang berlawanan, yaitu meningkatkan sekresi air susu. Hormon ini disekresikan oleh kelenjar hipofisis ibu dan konsentrasinya dalam darah ibu meningkat dari minggu ke-5 kehamilan sampai kelahiran bayi. Selain itu, plasenta mensekresi sejumlah besar somatomamotropin korion manusia, yang juga memiliki sifat laktogenik ringan, sehingga menyokong prolaktin dari hipofisis ibu.

9. Gangguan pada Sistem Reproduksi Wanita
a. Gangguan menstruasi
Gangguan menstruasi pada wanita dibedakan menjadi dua jenis, yaitu amenore primer dan amenore sekunder. Amenore primer adalah tidak terjadinya menstruasi sampai usia 17 tahun dengan atau tanpa perkembangan seksual. Amenore sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 – 6 bulan atau lebih pada orang yang tengah mengalami siklus menstruasi.
b. Kanker vagina
Kanker vagina tidak diketahui penyebabnya tetapi kemungkinan terjadi karena iritasi yang diantaranya disebabkan oleh virus. Pengobatannya antara lain dengan kemoterapi dan bedah laser.
c. Kanker serviks
Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel abnormal tumbuh di seluruh lapisan epitel serviks. Penanganannya dilakukan dengan mengangkat uterus, oviduk, ovarium, sepertiga bagian atas vagina dan kelenjar limfe panggul.
d. Kanker ovarium
Kanker ovarium memiliki gejala yang tidak jelas. Dapat berupa rasa berat pada panggul, perubahan fungsi saluran pencernaan atau mengalami pendarahan vagina abnormal. Penanganan dapat dilakukan dengan pembedahan dan kemoterapi.
e. Endometriosis
Endometriosis adalah keadaan dimana jaringan endometrium terdapat di luar uterus, yaitu dapat tumbuh di sekitar ovarium, oviduk atau jauh di luar uterus, misalnya di paru-paru. Gejala endometriosis berupa nyeri perut, pinggang terasa sakit dan nyeri pada masa menstruasi. Jika tidak ditangani, endometriosis dapat menyebabkan sulit terjadi kehamilan. Penanganannya dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan, laparoskopi atau bedah laser.
f. Candidiasis / keputihan.
Yaitu munculnya gumpalan seperti endapan susu berwarna putih. Disebabkan karena infeksi jamur Candida albicans. Keputihan ini dapat muncul akibat ketidakseimbangan hormonal yang disebabkan oleh kegemukan, pasca menstruasi, kehamilan, pemakaian alat kontrasepsi hormonal, pengunaan obat-obatan steroid, kondisi organ intim yang terlalu lembap, dan lainnya. Juga bisa merupakan akibat dari gula darah yang tidak terkontrol. Penanganan untuk candidiasis cukup dengan menjaga kebersihan dan kelembapan organ intim wanita. Peggunaan sabun khusus pembersih vagina dan menjaga agar di bagian intim tak terlalu lembap bisa dilakukan. Namun, jika memang tak tertahankan dan menimbulkan gatal yang amat sangat, dapat diberikan obat antijamur misalnya triazol atau imidazol.

C. Sexually Transmitted Disease
Selain kelainan-kelainan di atas, ada juga beberapa penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin (Sexually Transmitted Disease), yaitu:
1. Syphilis
Syphilis ialah penyakit menular yang disebabkan oleh suatu bakteri berbentuk spiral yaitu Treponema pallidum. Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ dalam tubuh, dapat ditularkan melalui hubungan seksual atau badaniah yang intim (misalnya ciuman), melalui transfusi darah, serta melalui plasenta dari ibu ke bayinya.
2. Gonorrhoea
Gonorrhoea ialah suatu penyakit akut yang menyerang selaput lendir dari uretra, serviks, rectum, kadang-kadang mata. Penyakit ini disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae.
3. Herpes Simplex Genitalis
Merupakan gangguan pada bagian luar kelamin berupa gelembung-gelembung berisi cairan. Gelembung air diakibatkan karena infeksi virus Herpes (HSV2). Gejalanya dapat berupa demam dan menimbulkan sensasi perih bila tersentuh. Bila menginfeksi sampai bagian dalam organ intim wanita, virus ini bisa menyebabkan nyeri sendi hingga rasa pegal di area pinggang. Pengobatan penyakit ini dengan obat antivirus. Pencegahannya dilakukan dengan menjaga daerah organ intim agar tidak terlalu lembap dan tetap bersih.

D. Sistem Reproduksi pada Invertebrata
1. Reproduksi asexual/vegetative
a. Fragmentasi yaitu pemisahan salah satu bagian tubuh yang kemudian dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu baru. Contohnya Planaria sp dan Asterias sp.
b. Budding/tunas/gemmulae yaitu pembentukan tonjolan pada salah satu bagian tubuh hewan dan adapat berkembang menjadi individu baru. Contohnya hewan Acropora sp dan Euspongia sp.
c. Fisi yaitu pembelahan sel pada sel induk dan hasilnya akan berkembang menjadi individu baru. Dibedakan menjadi 2 yaitu pembelahan biner, contohnya pada Bakteri dan pembelahan multiple pada Virus.
d. Sporulasi yaitu dengan dibentuknya spora pada sel induk dan akhirnya spora akan berkembang menjadi individu baru. Contohnya pada Plasmodium sp.
e. Parthenogenesis yaitu terbentuknya individu baru melalui sel telur yang tanpa dibuahi. Contohnya lebah madu jantan, semut jantan dan belalang.
f. Paedogenesis yaitu terbentuknya individu baru langsung dari larva/nimpha. Contohnya pada Class Trematoda/cacing isap yaitu Fasciola hepatica dan Clonorchis sinensis.

2. Reproduksi sexual/ generative
a. Konjugasi yaitu persatuan antara dua individu yang belum mengalami spesialisasi sex. Terjadi persatuan inti (kariogami) dan sitoplasma (plasmogami). Contohnya pada Paramaecium sp.
b. Fusi yaitu persatuan/peleburan duya macam gamet yang belum dapat dibedakan jenisnya. Dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
• Isogami yaitu persatuan dua macam gamet yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Contohnya pada Phyllum Protozoa.
• Anisogami yaitu persatuan dua macam gamet yang berbeda ukuran dan bentuknya sama. Contohnya Chlamydomonas sp.
• Ooaitu persatuan dua macam gamet yang memiliki ukuran dan bentuk yang tidak sama. Contohnya pada Hydra sp

E. Sistem Reproduksi pada Vertebrata
Reproduksi seksual pada vertebrata diawali dengan perkawinan yang diikuti dengan terjadinya fertilisasi. Fertilisasi tersebut kemudian menghasilkan zigot yang akan berkembang menjadi embrio.
Fertilisasi pada vertebrata dapat terjadi secara eksternal atau secara internal.
Fertilisasi eksternal merupakan penyatuan sperma dan ovum di luar tubuh hewan betina, yakni berlangsung dalam suatu media cair, misalnya air. Contohnya pada ikan (pisces) dan amfibi (katak). Fertilisasi internal merupakan penyatuan sperma dan ovum yang terjadi di dalam tubuh hewan betina. Hal ini dapat terjadi karena adanya peristiwa kopulasi, yaitu masuknya alat kelamin jantan ke dalam alat kelamin betina. Fertilisasi internal terjadi pada hewan yang hidup di darat (terestrial), misalnya hewan dari kelompok reptil, aves dan Mamalia. Setelah fertilisasi internal, ada tiga cara perkembangan embrio dan kelahiran keturunannya, yaitu dengan cara ovipar, vivipar dan ovovivipar.

4. Ovipar (Bertelur)
Ovipar merupakan embrio yang berkembang dalam telur dan dilindungi oleh cangkang. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang ada di dalam telur. Telur dikeluarkan dari tubuh induk betina lalu dierami hingga menetas menjadi anak. Ovipar terjadi pada burung dan beberapa jenis reptil.

5. Vivipar (Beranak)
Vivipar merupakan embrio yang berkembang dan mendapatkan makanan dari dalam uterus (rahim) induk betina. Setelah anak siap untuk dilahirkan, anak akan dikeluarkan dari vagina induk betinanya. Contoh hewan vivipar adalah kelompok mamalia (hewan yang menyusui), misalnya kelinci dan kucing.

6. Ovovivipar (Bertelur dan Beranak)
Ovovivipar merupakan embrio yang berkembang di dalam telur, tetapi telur tersebut masih tersimpan di dalam tubuh induk betina. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang berada di dalam telur. Setelah cukup umur, telur akan pecah di dalam tubuh induknya dan anak akan keluar dari vagina induk betinanya. Contoh hewan ovovivipar adalah kelompok reptil (kadal) dan ikan hiu.

7. Organ Kopulatoris Jantan
a. Pisces: Organ kopulatoris merupakan modifikasi sirip anal maupun sirip pelvis. Sirip pelvis pada elasmoranchi akan termodifikasi menjadi clasper. Pada teleostei sirip anal memanjang membentuk gonopodium.
b. Amphibi: Tidak memiliki organ kopulatoris jarena fertilisasinya terjadi secara eksternal.
c. Reptil: Semua reptil selain spenodon memilikiorgan kopulatoris, ular dan kadal mempunyai hemi penis, sedangkan pada buaya penis.
d. Aves: Berupa penis yang serupa dengan penis pada kura-kura maupun buaya.
e. Mamalia: Pada monotremata mirip dengan yang terdapat pada kura-kura, sedangkan untuk mamalia yang lebih tinggi, penis terletak di sebelah anterior skrotum.
8. Organ Reproduksi Interna (Betina)
Vulva pada primata terdapat dua lapisan kulit, yaitu labia minora yang terletak di tepi vestibulumyang terbuka. Pada kera terdapat labia mayora. Di bagian dinding ventral dari vestibula terdapat klitoris yang homolog dengan penis. Di kedua sisi vesti bulum terdapat kelenjar seks asesori yaitu kelenjar Bartholin.
Kelenjar susu hanya terdapat pada mamalia. Kelenjar susu merupakan modifikasi dari kelenjar keringat. Perkembangannya dikontrol oleh hormon estrogen dan progesterone. Produksi susu dirangsang oleh hormon prolaktin, sedangkan pengeluaran susu dirangsang oleh hormon oksitosin.

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Alat reproduksi pada manusia baik pria maupun wanita terdiri atas alat reproduksi dalam maupun alat reproduksi luar. Alat reproduksi ini berfungsi dengan baik karena ditunjang oleh berbagai hormon. Pada pria sebenarnya tidak akan mengalami masa menopause jika alat reproduksi terjaga dengan baik
Jika tidak terjadi pembuahan ovum oleh sperma maka ini akan disebut sebagai proses, jika adanya sel telur yang dibuahi oleh sperma inilah yang disebut dengan proses fertilisasi. Fetilisasi melalui beberapa tahap hingga perslainan dan laktasi. Zigot baru akan terbentuk jika adanya fertilisasi yang terjadi dengan baik. Hal ini tentu saja dapat terjadi bila sel induk tidak mengalami kelainan terutama kelainan dalam sistem reproduksi.
Untuk jenis reproduksi pada hewan invertebrata ada berbagai macam, sedangkan jenis reproduksi yang terjadi pada vertebrata adalah reproduksi seksual. Sistem reproduksi pada vertebrata secara umum terdiri atas kelenjar kelamin, saluran reproduksi dan kelenjar seks asesori. Hewan yang melakuakan fertilisasi internal dilengkapi dengan organ kopulatoris pada yang jantan.Organ utama penyusun system reproduksi adalah gonad. Pada hewan jantan gonadnya disebut testis, sedang pada hewan betina disebut ovarium. Pada mamlia jantan dilengkapi dengan adanya kelenjar asesori yang menghasilkan cairan sebagai medium sperma.sedang pada betina terdapat uterus, khusus pada mamlia terdapat 4 macam tipe uterus:
• Dupleks; uterus kanan dan kiri terpisan dan bermuara secara terpisah ke vagina.
• Bipartil; uterus kanan dan kiri bersatu yang bermuara ke vagina dengan satui lubang.
• Bikornuat; bagian uterus kana dan kiri labih banyak yang bersatu bermuara ke vagina dengan satu lubang.
• Simpleks; semua uterus bersatu sehingga hanya memiliki badan uterus.




B. SARAN

Reproduksi bertujuan untuk menghasilkan individu baru guna mempertahankan jenisnya di dalam siklus kehidupan ini. Terjadinya reproduksi dimulai dari adanya proses fertilisasi sampai terbentuknya zigot/individu baru.
Agar terbentuk individu baru yang sempurna, pada manusia perlu memperhatikan aspek kesehatan pada induknya terutama yang berkaitan dengan kelainan sistem reproduksi. Kelaianan/ penyakit dalam sistem reproduksi ini perlu diketahui oleh kita semua terutama bagi setiap insan yang ingin membangun rumah tangga yang baru.
Untuk mewujudkan hal di atas, petugas kesehatan atau siapa pun yang ahli dalam reproduksi perlu memberikan penyuluhan kepada masyarakat kelainan yang dapat menyerang sistem reproduksi pada manusia. Tentunya bagi mereka yang melakukan penyuluhan tersebut dapat memberikan solusi yang baik dalam memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan reproduksi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Reproduksi tidak hanya terjadi pada manusia. Setiap mahkluk hidup pasti akan melakukan reproduksi. Ilmu pengetahuan menuntut untuk mengetahui dan memahami reproduksi pada tumbuhan dan hewan. Dengan mengetahui sistem reproduksi pada tumbuhan dan hewan akan memudahkan kita dalam mengembangkan sistem unggul pada bibit tanaman dan ternak kita.


DAFTAR PUSTAKA

Pratiwi, DA. 1996. Biologi 2. Jakarta: Erlangga

Radiopoero. 1998. Zoologi. Jakarta: Erlangga

Tenzer, Amy. 2003. Petunjuk Praktikum Struktur Hewan II. Malang: Jurusan Biologi UM

Tenser, Amy. 2003. Bahan Ajar: Strutur Hewan II. Malang: Dirjen Dikti

Tim Asistensi. 1990. Diktat Asistensi Anatomi Hewan-Zoologi. Yogyakarta: Jurusan
Zoologi UGM


Senin, 07 Mei 2012

Pengalaman Gendeng

1. Di ruang Elite
Cow: knapa sih dek, dari tadi natap abg teRuz...
Cew: nggk... Abg Lucu aza.
Cow: Hm, NAKSIR ya ma abg, abg juga suka kog liat adek.
Cew: iiiiih, PD benar.
Hm, di kost masak sendiri ya?
Cow: KOG TaW??
cEW: tUH, di hidung PesEkmu ada bekas arang periuk..!
Cow:........ :'(



2. DI rUMAH PACAR.
Cow: Yanx, Jlan yuk.! Pake motor.
Cew: nggk ah, BENSIN nya Ngutang bah?
Cow: KOG TAW?
Cew: Stahu q, isi dompetmu kosong KEKERINGAN,
Cew: KOG TW Juga
Cew: kmarinkan tas sama dompetmu ktinggalan di sini.
Cow: YAAAAAAcH.....!


3. Mojok di Taman:
Cew: Yanx, udah maem blom?
Cow: udh Yanx.
Cew: ap sayurnya tdi?
Cow: smbal teri, pke wortel, sma ikan goreng.
Cew: ah, qmu ne yanx, gaya bah. blg za sayurnya DAUN SINGKONG.
Cow: KOG TAW??
Cew: tu, masih ada DAUN SINGKIong kselip d gi2 mu..


4. AyanK n Bujank Jilid 2.
Aynk: Domped abg tebal ya?
Bjg: Kog tw?
Aynk: tadi liat abg jual kulat gotah.
Bjg: Bise aja.
Ayg: Traktir lha bG, KUACI pun ckup lha.!
Bjg: hm, koti nok? Abg mayar utang k warung lok bah, klo da sisak baru m moli KUACI.
Ayg: ???


5. BUJANG N AYANK.
Bjg: Bapakmu motong gotah ya??
Aynk: kog tw?
Bjg: abez kulitmu putih lebih putih dari air karet...!
aynk: ah gombal....!
Bjg: ok, aq nggk gombal. Tdi aq liat qmu ngangkat kulat gotah sama bapakmu...!

Selasa, 17 April 2012

MIKROBIOLOGI.. Makalah Oleh Frandian, Tri Juniati, Dhea Marsela, Nurhayti. Prodi Biologi STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

RESUME




Alga merupakan organisme eukariotik fotoautotrof. Meskipun berfotosintesis, alga berbeda dari tanaman karena alga tidak memiliki jaringan tanaman ( akar, batang dan daun). Spesies alga ada yang bersifat uniseluler dan ada pula yang bersifat multiseluler. Warna sebagian besar alga dipengaruhi klorofil a ( pigmen penyerap cahaya) dan pigmen fotosintesis lainnya yang dikenal sebagai karotenoid dan biloprotein ( disebut juga fikobilin ). Karotenoid adalah hidrokarbon lurus berwarna kuning, jingga atau merah yang tidak larut dalam air. Biloprotein atau fikobilin adalah kompleks pigmen berwarna biru atau merah yang larut dalam air.
Semua alga memperoleh energi dari proses fotosintesis dan menghasilkan oksigen. Banyak alga yang hidup sebagai sel tunggal dan ada pula yang membentuk koloni multiseluler yang berisi sel-sel yang secara morfologi identik. Sel-sel alga sering kali memiliki pirenoid, yaitu organel yang menyintesis dan menyimpan pati. Struktur reproduktif alga berupa satu sel gamet yang disebut gametangia.

STRUKTUR VEGETATIF ALGA
Tubuh alga disebut thallus dan bersifat haploid. Thallus dapat tersusun atas satu sel ataupun banyak sel dalam pengaturan yang bervariasi. Ada empat tipe alga berdasarkan struktur tubuhnya, yaitu alga uniseluler, alga koloni, alga berfilamen dan alga multiseluler. Struktur alga uniseluler mengandung satu sel. Sebagian besar merupakan organisme akuatik dalam bentuk fitoplankton, yaitu suatu populasi organisme fotosintetik yang menjadi dasar rantai makanan.
Alga kolonial memiliki struktur yang mengandung sekelompok sel yang berkoordinasi dan terspesialisasi. Sel-sel ini memungkinkan alga bergerak, makan dan bereproduksi secara efisien. Alga berfilamen memiliki thallus berbentuk batang ramping yang tersusun atas berderet-deret sel yang ujungnya terkait satu sama lain. Beberapa diantaranya memiliki struktur terspesialisasi yang disebut struktur pemegang ( holdfast ) yang bercabang dan tertanam pada batuan. Alga multiseluler memiliki thallus serupa daun yang besar dan kompleks dengan bentuk seperti pisau atau silet. Terdapat pula struktur berupa batang. Thallus tidak memiliki xilem dan floem. Serta menyerap nutrisi dari air disekelilingnya. Batang alga tidak memiliki lignin ( tidak berkayu) sehingga tidak berfungsi seperti batang pada tanaman. Alga mengapung diair dengan adanya struktur daun menyerupai silet atau pisau yang berisi rongga udara disebut pneumatocyst.

DAUR HIDUP ALGA
Alga bereproduksi secara aseksual maupun seksual. Reproduksi aseksual alga multiseluler adalah dengan jalan fregmentasi thallus atau filamen yang menghasilkan thallus atau filamen baru. Reproduksi aseksual alga uniseluler berlangsung dengan cara mitosis ( pembelahan inti), selanjutnya kedua inti pindah sebagian yang berlawanan pada sel dan sel membelah menjadi dua sel ( sitokinesis ). Banyak spora aseksual alga aquatik berflagela dan motil, dinamakan zoospora. Spora nonmotil atau aplanospora dibentuk oleh alga yang hidup didarat.
Pada reproduksi seksual terdapat konjugasi gamet sel jantan dan betina sehingga dihasilkan zigot. Jika gamet secara morfologi serupa, proses konjugasi tersebut dinamakan isogami, jika gamet berbeda ukuran maka proses konjugasi tersebut dinamakan heterogami. Ovum (sel telur betina) berukuran besar dan nonmotil, sedangkan gamet jantan (sel sperma) berukuran kecil dan motil dengan aktif. Proses seksual ini disebut oogami.

FISIOLOGI ALGA
Sebagian besar alga ditemukan di perairan, laut maupun air tawar dan lokasinya tergantung pada keberadaan nutrisi, panjang gelombang cahaya dan permukaan substrat untuk tumbuh. Namun ada juga alga yang ditemukan ditanah. Beberapa spesies alga hidup di salju dan es didaerah kutub dan puncaknya gunung. Beberapa alga hidup pada sumber air panas dengan temperatur berkisar 70o C, meskipun temperatur optimal untuk alga termal ini adalah diantara 50-54oC.
Alga mempunyai tiga macam pigmen fotosintetik yaitu klorofil, karotenoid dan fikobilin. Semua pigmen fotosintesis ini terdapat pada kloroplas. Seluruh alga memiliki klorofil a yang terdapat pada semua organisme fotosintetik kecuali bakteri fotosintetik.
Klorofil yang lain adalah klorofil b,c,d dan e. Ada dua macam karotenoid, yaitu karoten dan xantofil. Ada dua macam fikobilin yaitu fikosianin dan fikoeritrin. Adanya pigmen-pigmen lain dapat menutupi klorofil. Contohnya, beberapa alga berwarna cokelat karena memiliki pigmen xantofil dan karoten dalam jumlah besar menutupi warna hijau yang dipantulkan oleh klorofil. Beberapa alga tidak berwarna dan tidak melakukan proses fotosintesis sehingga dianggap sebagai protozoa oleh beberapa ilmuwan.
Hasil fotosintesis alga disimpan sebagai produk cadangan makanan dalam bentuk granul atau globul dalam sel-selnya. Misalnya, alga hijau biru menyimpan hasil fotosintesisnya dalam bentuk pati. Beberapa alga lain menyimpan hasil fotosintesisnya dalam bentuk minyak atau lemak.

KLASIFIKASI ALGA
Alga diklasifikasikan antara lain berdasarkan pigmen, produk cadangan makanan, flagela, struktur dinding sel, organisasi sel, sejarah hidup dan reproduksinya. Dikenal lima belas filum alga yaitu :
1. Cyanophyta ( Cyanobacteria, alga hijau-biru )
2. Rhodophyta ( Alga merah )
3. Euglenophyta
4. Cryptophyta
5. Pyrrophyta
6. Raphidophyta
7. haptophyta
8. Chrysophyta ( Alga cokelat keemasan )
9. Xanthophyta ( Alga hijau-kuning )
10. Chlorophyta ( Alga hijau )
11. Eutigmatophyta
12. Phaeophyta ( Alga cokelat )
13. Prasinophyta
14. Baccilariophyta
15. Glaucophyta

Filum Cyanophyta ( Cyanobacteria, alga hijau-biru )
Cyanophyta adalah alga hijau-biru, bersifat uniseluler, berfilamen atau berkolonial, tidak memiliki membran internal dan tidak memiliki organel termasuk nukleus. Warna alga ini hijau-biru, hijau-hijau, ubgu, cokelat, merah-jingga tergantung pada konsentrasi pigmen klorofil, fikosianin dan fikoeritrin. Contoh filum ini adalah Oscillatoria, Nostoc dan Spirudina.


Filum Rhodophyta ( Alga merah )
Warna merah pada Rhodophyta disebabkan oleh dominasi pigmen fikosianin dan fikoeritrin pada kloroplas. Thallus bercabang dan dapat tumbuh dilautan dalam. Pigmen merah memudahkan penyerapan sinar biru UV yang mempenetrasi jauh kedalam laut. Rhodophyta biasa digunakan untuk media mikrobial. Umumnya alga tergolong dalam filum ini merupakan alga uniseluler, alga berfilamen atau pseudoparenchymatous ( tidak memiliki tahap flagela ). Penyimpanan makanan sebagai hasil fotosintesisnya bervariasi, termasuk pati yang berwarna merah yang unik pada alga merah. Contoh filum ini adalah Gracillaria Sp, sebagian besar alga merah bersifat toksik.

Filum Euglenophyta ( Euglenoid )
Umumnya Euglenophyta merupakan alga uniseluler, bersifat fakultatif autotrof, bergerak aktif menggunakan satu atau dua flagela. Reproduksi terjadi melalui pembelahan biner. Sel Euglena tidak kaku dan tidak memiliki dinding sel yang berisi selulosa. Beberapa spesies memiliki bintik mata merah yang jelas. Terdapat vakuola kontraktil didalam sel untuk mencerna zat buangan. Fotosintesis dilakukan dalam kloroplas dan hasilnya disimpan dalam bentuk butiran paramilon yang disebut pirenoid. Contoh filum ini adalah Euglena, Phacus dan Trachelomonas.

Filum Cryptophyta ( Cryptomonad )
Alga yang tergolong kedalam filum Cryptophyta memiliki dua flagela yang tidak sama. Sel-selnya memipih, berbentuk sandal dan dijumpai sendiri-sendiri ( uniseluler ). Beberapa spesies memiliki dinding sel. Sedangkan beberapa yang lain telanjang. Sel membelah secara membujur. Sel berwarna coklat, biru, biru-hijau, merah-cokelat dan kuning-cokelat, tergantung pigmen tambahan selain kloroplas. Bahan cadangan makanan disimpan dalam bentuk pati. Contohnya : Chilomonas dan Cryptomonas.

Filum Pyrrophyta ( Dinoflagelata )
Filum ini meliputi Dinoflagelata yang motil dan fitodinand yang nonmotil tetapi membentuk zoospora dengan flagela, secara kolektif disebut plankton ( organisme yang terapung bebas ). Alga dalam filum ini, merupakan alga uniseluler dengan dua flagela. Beberapa Dinoflagelata memiliki dinding sel yang terdiri atas lempengan-lempengan yang mengandung selulosa, menyebabkan adanya struktur kaku pada sel. Hidupnya diair tawar maupun air laut. Reproduksi sebagian besar dengan reproduksi aseksual yaitu melalui pembelahan sel. Bahan cadangan makanan disimpan dalam bentuk pati dan minyak. Beberapa anggota Dinoflagelata memproduksi neurotoksin contohnya adalah Gymnodinium brave dan Alexandrium sp, yang memproduksi saxitoksin yang menyebabkan paralytic shellfish poisoing (PSP), yaitu toksin yang terkonsentrasi saat sejumlah besar Dinoflagelata dimakan moluska dengan PSP yang terkonsentrasi didalamnya dapat terkena PSP tersebut.

Filum Baccilariophyta ( diatom )
Kelompok ini terdiri dari diatom-atom, terdapat didalam air tawar maupun air laut serta dalam tanah lembab. Diatom merupakan bentuk plankton yang menjadi bahan makanan bagi hewan di air. Diatom dapat bersifat uniseluler, berkoloni ataupun membentuk filament. Setiap sel mengandung satu nukleus serta plastida-plastida yang masih berbentuk pita.
Alga ini membentuk cangkang ( dinding sel kompleks ) yang mengandung pectin dan silica. Deposit cangkang yang diakibatkan oleh pertumbuhan yang berabad-abad disebut diatomit atau tanah diatom. Diatomit dimanfaatkan sebagai bahan insulasi, sebagai bahan dasar kosmetik. Alga ini memproduksi domoic acid, yaitu toksin yang umumnya akan terkonsentrasi pada remis. Gejala keracunan toksin ini berupa diare sehingga kesadaran. Contoh filum ini adalah Isthmia nervosa dan Pridinium sp.


Filum Raphidophyta
Sel alga dari filum Raphidophyta berwarna kuning-hijau akibat adanya dominansi pigmen diatoxantin pada kloroplas. Raphidophyta merupakan alga uniseluler. Tersusun dorsiventral dan tidak memiliki dinding luar. Alga ini memiliki dua flagela yang muncul pada bagian ujung sel. Penyimpanan makanan dalam bentuk minyak.

Filum Haptophyta
Sel alga dari filum Haptophyta berwarna keemasan atau kuning-cokelat akibat adanya dominasi pigmen fukosantin. Haptophyta merupakan alga uniseluler dan motif dengan dua flagela. Alga ini juga memiliki tahap amoeboid, kokus dan filamenus. Dinding sel umumnya mengalami klasifikasi. Diantara kedua flagela terdapat tonjolan yang disebut haptonema. Makanan disimpan oleh Haptophyta dalam bentuk laminarin contoh filum ini adalah Calcidiscus sp.


Filum Crysophyta ( Alga cokelat keemasan )
Crysophyta merupakan alga yang berwarna cokelat keemasan. Warna sel yang keemasan hingga kuning-cokelat tergantung pada dominasi pigmen tambahan sel Crysophyta berbentuk bulat dan terkadang terus memperbanyak diri dalam matriks bergelatin membentuk massa yang disebut palmeloid. Alga ini berfilamen atau parenchymatous.
Umumnya Crysophyta bersifat motil dan memiliki satu atau dua flagela yang panjangnya tidak sama. Alga ini tidak memiliki dinding sel luar, dan terkadang terdapat silica dalam dinding sebagai sisik. Reproduksi dilakukan dengan pembelahan biner, tetapi terkadang juga dilakukan secara seksual dengan isogami. Bahan makanan hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk minyak atau leukosin. Contoh filum ini adalah Ochromonas sp.



Filum Xanthophyta ( Alga hijau-kuning)
Xanthophyta merupakan alga hijau-kuning dan menggambarkan keadaan antara Chrysophyta dan Chlorophyta. Sel-selnya motil dengan dua flagela yang panjangnya tidak sama. Dinding sel sering kali berisi silika. Umumnya sel bersifat uniseluler, membentuk koloni, berfilamen, ataupun berbentuk tabung. Bahan makanan hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk minyak. Contoh filum ini adalah Vaucheria sp. yang tersebar luas ditanah lembab maupun diair, contohnya lainnya adalah Heterothrix sp. Gambar 1: Heterothrix sp

Filum Chlorophyta ( Alga Hijau )
Alga hijau terutama terdiri dari spesies yang hidup diair tawar, namun ada pula spesies yang hidup dilingkungan lembab seperti pada tanah, bebatuan yang lembab atau pada batang pohon. Beberapa spesies hidup bersimbiosis dengan organisme lain dan disebut lichen. Struktur tubuh alga hijau bervariasi mulai dari sel tungga, berbentuk koloni hingga multiseluler. Sebagian besar organisme ini mengandung satu kloroplas dalam setiap sel yang berisi pusat pembentukan pati yang disebut pirenoid. Dinding sel terbuat dari selulosa. Alga hijau memiliki flagela, dinding sel selulosa dan berkembang biak dengan membelah diri, pembentukan zoospora aseksual berflagela atau secara seksual dengan isogami atau heterogami bahan makanan hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk pati. Contoh filum ini adalah Chlamydomonas sp dan Ulva sp.
Ada bermacam-macam tipe morfologi yang lain pada ganggang hijau dari sel tunggal sampai membentuk pada koloni. Banyak ganggang hijau uniseluler dapat bergerak-gerak karena adanya flagela. Beberapa spesies dilengkapi alat pelekap menjangkarkannya pada benda yang terendam air atau tumbuhan air. Setiap sel mempunyai satu nukleus dan satu kloroplas besar yang berbentuk mangkuk pada kebanyakan spesies.
Pada reproduksi aseksual, individu yang berenang bebas menjadi nonmotil, karena flagelanya menghilang, kemudian menjalani pembelahan protoplas secara membujur sehingga terbentuklah protoplas anak sebanyak dua, empat atau delapan. Sel-sel anak itu membentuk dua flagela masing-masing dan membangun dinding sel yang baru. Kemudian dilepaskan dari sel induknya. Daur ini dapat berulang-ulang tak terhingga dalam biakan laboratorium atau di alam.
Dalam beberapa kasus, sel-sel anak tidak membentuk flagela dan tidak dapat melepaskan diri, melainkan sel-sel itu terus saja memperbanyak diri di dalam matriks yang lebih kirang bergelantin. Masa sel yang sebentuk demikian itu dinamakan stadia Palmeloid. Pembentukan stadia itu di tentukan oleh keadaan alam sekitarnya yang pada umumnya menguntungkan bagi pertumbuhan tetapi tidak untuk motilitas. Walaupun demikian, setiap sel individu, dapat memventuk flagela dan membebaskan diri dari masa tersebut. Stadia palmeloidnterdapat banyak pada ganggang sebagai fase perkembangan predominan ataupun terjadi sekali-sekali saja.
Selain alga multiseluler yang motil seperti chalamydomonas, juga algae hijau uniseluler yang nonmotil tersebar luas. Salah satu yang paling penting diantaranya ialah Chorella, yang telah dimanfaatkan sebagai sistem hayati di laboratorium dalam banyak penelitian tentang fotosintesis dan persediaan makanan tambahan.
Prototheca, biasanya dianggap Cholorella tak berwarna diketahui menjadi patogen pada manusia. Desmid adalah ganggang hijau yang mempunyai bentuk serta pola yang beraneka ragam yang menarik. Setiap sel terdiri dari dua belahan yang simetris (semisel) berisikan satu atau lebih kloroplas.









Gambar 1: Alga Hijau Gambar 2: Alga Hijau
















DAFTAR PUSTAKA

J. Pelczar, Jr, Michael dan E.S.C. Chan. 2010. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Pryantoro, Adi. 2010. Ciri – Ciri Cholorophyta (Alga Hijau). Tersedia di http://adios19.wordpress.com. Diakses tanggal 1 Oktober 2011.

Andrita SPd, Sesilia. Alga Nonvascular. Tersedia di http://cyeciliapical.blogspot.com. Di akses tanggal 1 oktober 2011

Pernita MSi, Ratih. Pengantar Algae. Tersedia di http://ratihblog08.blogspot.com. Diakses tanggal 2 Oktober 2011

Jumat, 25 November 2011

Gen Letal

Di Susun Oleh Kelompok II:
1. Jamal
2. Siti Purwasih
3. Frandianus Agustinus

Kelas B5...
STKIP PERSADA KHATULISTIWA SINTANG


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Genetika adalah ilmu pengetahuan dasar dalam usaha penyediaan bibit tanaman maupun ternak yang unggul dalam bidang pertanian dan perternakan, dibidang kedokteran dalam hal ini lingkup ilmu genetika sangat luas membahas masalah peranan kromosom, pewarisan sifat genetik dan antropologik, terjadinya cacat mental dan fisik yang disebabkan oleh kromosom. Timbulnya penyakit akibat kesalahan metabolisme bawaan, respon tubuh terhadap obat, tranplantasi, penyakit autoimun dan golongan darah, keturunan pada kanker, diagnisis kelainan genetik sebelum bayi lahir, identifikasi bayi tertukar ataupun adopsi. Termasuk salah satunya tetntang gen letal yang melatarbelakangi penulisan makalah kami ini.
Memang sangat sukar dijalankan penelitian genetika dengan obyek manusia ada beberapa alasan diantaranya:
1. Manusia tidak mau apakah dalam keluarganya terdapat penyakit/ kelainan/cacat genetik.
2. Penelitian tidak mungkin memeksakan suatu perkawinan untuk kepentingannya
3. Suatu keluarga sekarang relatip memilih KB sehingga sulit untuk memperoleh rasio populasi yang diharap.
4. Umur manusia yang terlalu panjang,sehingga penelitinya sudah meninggal sebelum hasilnya didapat.
5. Jumlah kromosom 46 pada manusia termasuk banyak sehingga teramat sukar diamati dan dihitung.





B. RUMUSAN MASALAH
Untuk lebih memfokuskan dan mengoptimalkan pembahasan, maka permasalahan yang diangkat pada pembahasan makalah ini hanya terbatas pada gen letal saja. Ada pun masalah yang kami angkat yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan gen letal?
2. Terbagi dari apa sajakah gen letal itu?
3. Bagaimana pengaruh gen letal terhadap mahkluk hidup?

C. MANFAAT PENULISAN MAKALAH
Dalam setiap pembahasan dari setiap masalah sudah pasti mempunyai maksud dan tujuan yang telah ditentukan. Berhubungan dengan hal tersebut, ini sangat penting untuk tercapainya suatu tujuan dalam penulisan suatu karya tulis/makalah. Maka ada pun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Menanamkan kesadaran akan pentingnya penulisan karya tulis.
2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara ilmiah.
3. Meningkatkan motivasi untuk menganalisis, menelaah suatu permasalahan dan mengambil kesimpulan seta memberi saran bagaimana baiknya.
4. Secara khusus dapat mengetahui pengertian dari gen letal dan pengaruh gen letal terhadap mahkluk hidup itu sendiri.








BAB II
PEMBAHASAN MATERI
A. PENGERTIAN GEN LETAL
Gen letal atau gen kematian adalah gen yang dalam keadaan homozigotik dapat menyebabkan kematain individu yang dimilikinya. Ada gen letal yang bersifat dominan dan ada pula yang resesip. Kematian ini dapat terjadi pada masa embrio atau beberapa saat setelah kelahiran. Akan tetapi, adakalanya pula terdapat sifat subletal, yang menyebabkan kematian pada waktu individu yang bersangkutan menjelang dewasa. Ada dua macam gen letal, yaitu gen letal dominan dan gen letal resesif. Gen letal dominan biasanya menyebabkan letal dalam susunan homozigot, sedangkan dalam sususunan heterozigot ada yang subletal, ada pula yang bisa hidup sehat sampai dewasa dan berketurunan. Yang heterozigot seperti halnya letal resesif, mewariskan karakter buruk itu kepada keturunan. Bedanya dengan letal resesif, heterozigot letal dominan ada memperlihatkan fenotipe cacat atau kelainan, sedangkan heterozigot letal resesif tidak ada, artinya hidup normal dan tak memperlihatkan kelainan.

B. LETAL RESESIF
1. Albino Pada Tanaman
Pada tanaman karakter albino tergolong letal, karena tak mengandung klorofil yang mutlak dibutuhkan untuk fotosintesis. Karena tanaman itu tak dapat hidup saprofit atau parasit maka ia pun tidak dapat membuat makanan organis, lalu mati. Ini sering dijumpai pada tanaman jagung.
Karakter letal ini bersifat resesif oleh gen G-g.
G= normal, ada klorofil
g= albino, tidak berklorofil

Tanaman normal bergenotipe GG. Yang heterozigot Gg hidup terus sampai berbunga dan berbuah, tapi kekuningan.yang homozigot resesif gg mati waktu kecambah.
Karena gg mati waktu berkecambah berarti individu yang bergenotipe demikian tidak bisa berketurunan. Kelainan itu diwariskan kepada keturunan melalui individu heterozigot Gg.
Sebagai contoh apabila jagung kekuningan dikawinkan sesamanya terdapat benih yang memiliki ratio penotif 1normal: 2 kekuningan: 1albino. Beberapa hari kemudian kecambah albino mati dan yang tumbuh terus sampai dewasa dan berbuah memiliki ratio 1 normal: 2 kekuningan. Jadi disini ratio penotif waktu dewasa ialah 1:2 antara normal dan kekuningan.
P: Gg X Gg
(Kekuningan) (Kekuningan)


♀ G g
G GG Gg
g Gg gg
F:







Ratio F1 : Geno: Kecambah : 1GG : 2Gg : 1gg
Dewasa : 2Gg : 1gg
Feno : Kecambah : 1 Nor : 2 Kekuningan:1Albino
Dewasa : 1 Normal : 2Kekuningan.




2. Sapi “bulldog”
Diantara gen letal resesif yang banyak itu, yang paling terkenal ialah pada sapi bulldog. Yakni bayi sapi yang lahir mirip anjing bulldog, karena bentuk kepala dan moncongnya aneh. Biasanya anak sapi bulldog digugurkan (abortus) saat berumur 6-8 bulan dalam kandungan.
Sapi bulldog turunan dari sapi ras Dexter. Sapi ini bertubuh pendek, dan secara gen terbukti bergenotipe heterozigot, berarti karrier terhadap gen letal.
Jika sapi Dexter dikawinkan sesamanya, ¼ bagian anak mereka bolldog. ½ persis seperti P yakni Dexter dan ¼ normal. Yang normal ini bertubuh biasa disebut sapi Kerry. Karena yang bulldog mati setelah lahir maka perbandingan penotif setelah lahir itu ialah 2:1 antara dexter dan Kerry. Simbol gennya: D-d (D dari kata Dexter.)

P: Dd X Dd
(Dexter) (Dexter)


♀ D d
D DD Dd
d Dd dd
F:







Ratio F1 : Geno : 1DD : 2Dd : 1dd
Feno : 1Kerry : 2Dexter : 1Buldog (setelah beberapa waktu kelahiran (1Kerry : 2Dexter)


3. Kelinci Pelger
Anomali Pelger ini, yang homozigot resesif ini biasanya mati sebelum lahir atau segera setelah kelahiran, Yang heterozigot ini disebut kelinci pelger
Simbol genetis P-p (dari kata Pelger). Jika kelinci Pelger kawin sesama, maka ¼ atau 25% anak mereka mati waktu sebelum lahir.
P: Pp X Pp
(Pelger) (pelger)


♀ P p
P PP Pp
p Pp Pp
F:







Ratio F1 : Geno: 1PP : 2Pp : 1pp
Feno : 1 prk: 2 plt : 1 pth (pth mati waktu lahir)


4. Rubah Platina
Rubah normal bulunya berwarna merah, ada warna platina (kelabu kebiruan), ada pula perak dan hitam.
Kalau platina dikawinkan sesama, ternyat ada ¼ bagian anak mereka yang berbulu putih dan mati saat lahir atau beberapa hari setelah lahir (paling tahan sebulan). Ternyata pula ¼ anak mereka itu berwarna perak dan ½ lagi platina seperti P. Itu bearti bahwa karakter warna bulu platina itu bersifat letal. Rubah platina ternyata heterozigot Pp, sedangkan perak homozigot dominan PP
P: Pp X Pp
(Platina) (platina)

Ratio F1 : Geno: 1PP : 2Pp : 1pp
Feno : 1 Normal : 2 Perger : (pp mati waktu lahir)

5. Pada manusia dikenal gen letal resesip I yang bila homozigotik akan memperlihatkan pengaruhnya letal, yaitu timbulnya penyakit Ichytosis congenita. Kulit menjadi kering dan betanduk. Pada permukaan tubuh terdapat bendar-bendar berdarah. Biasanya bayi telah mati dalam kandungan.
P betina Ii x jantan Ii
normal normal
F1
Jantan
betina I i
I II
normal Ii
normal
i Ii
normal ii
letal








C. LETAL DOMINAN
1. Ayam berjambul
Karakter ayam berjambul diamati pertama kali oleh Charles Darwin (1887). bulu di kepala panjang dan tegak. Ayam ini nampak menarik dan banyak disenangi orang sehingga diternakan sebagai binatang kesayangan. Ayam berjambul itu bergenotipe heterozigot Crer. Yang homozigot dominan (CrCr) mati waktu embrio dierami sekitar 10 hari (normal 21 hari). Jika diperiksa tengkorak embrio itu, ternyata lobang tulang dahi itu besar sehingga otak daerah cerebrum menjulur, membentuk burut (hernia).
Jika ayam berjambul dikawinkan sesamanya maka ¼ bagian telurnya tak menjadi. Dari yang menetas 1/3 tak berjambul (normal), 2/3 lagi berjambul.
Crcr x Crcr
(berjambul) (berjambul)

Ratio: Geno: 1CrCr: 2Crcr: 1crcr
Feno: 2jbl: 1nor.

2. Ayam Redep
Pada ayam ada gen dominan yang menyebabkan kematian waktu embrio dalam susunan homozigot. Yang heterezigot dapat hidup, tapi memiliki keabnormalan atau cacat. Alel resesif gen itu rupanya adalah gen yang asli, yang berperanan mengatur pertumbuhan tulang, khususnya differensiasi tulang rawan. Alel mutatnya yang dominan menyebabkan pertumbuhan tulang terganggu.
Yang heterozigot memiliki anggota pendek, baik kaki maupun sayap. Disebut redep atau creeper. Simbol genetis: Cp-Cp. Yang homozigot dominan (CpCp) kalau diperiksa memiliki aneka kelainan atau cacat (sindroma): mata bercelah, tubuih lebih kecil, tak ada kelopak mata, kepala rusak, rangka tak mengalami osifikasi.

P: Cpcp x Cpcp
(redep) (redep)





♀ Cp cp
Cp CpCp Cpcp
cp Cpcp cpcp
F:







Ratio F1 : Geno: 1 CpCp : 2 Cpcp : 1cpcp
Feno : 2 Redep : 1 Normal

Umumnya CpCp mati ketika embrio dierami 3 hari. Kadang ada yang tahan sampai 19 hari eraman, dekat waktu menetas.meski ayam Cpcp hidup dengan kaki pendek, redep, dan nampak biasa, tapi sesungguhnya ia menggandung penyakit keturunan khronis, yang disebut achondroplasia (chondrodystrophy).
Tabel di atas memperlihatkan keturunan redep kalau kawin sesamanya. Ratio fenotip F1-nya ialah: 2redep: 1normal. Karena dari ratio genotipe 1CpCp: 2Cpcp: 1CpCp mati embrio.

3. Orang brachydactyly
Brachydactyly, ialah orang yang berjari pendek. Cacat keturunan ini diturunkan secara dominan. Dalam susunan homozigot dominan menyebabkan kematian dalam masa embrio, persis seperti ayam redep. Simbol untuk brachydactyly ialah Bd, dan alel bd untuk normal.
Kalau orang brachydactyly kawin sesamanya, maka ratio anak mereka yang mungkin lahir ialah: 2brachy: 1nor.



P: ♂ Bd bd X Bd bd ♀


♀ Bd bd
Bd Bd Bd Bd bd
bd Bd bd bd bd
F:







Ratio F1 : Geno: 1 Bd Bd : 2 Bd bd : 1 bd bd
Feno : 2 Brach : 1 Normal

4. Tikus kuning
Pada tikus dikenal pula gen kematian. Pada dasarnya gen asli ialah mengatur pigmentasi kulit (bulu). Tapi rupanya setelah bermutasi selain menumbuhkan pigmentasi abnormal, juga dapat menyebabkan kematian waktu embrio jika dalam susunan homozigot.
Gen kematian pada tikus itu ialah Y, dan alel resesif y merupakan alel normal. (Y berasal dari kata: yellow).

P: ♂ Yy X Yy ♀
(Kuning) (Kuning)

♀ Y y
Y YY Yy
y Yy yy
F:






Kalau tikus bergenotipe Yy fenotipnya berbulu kuning dan gemuk. Bergenotipe YY tak ada, berarti mati waktu embrio. Bergenotipe yy ialah tikus normal, bulunya kelabu. Tikus kuning sesamanya, akan memiliki anak dengan ratio: 2kuning: 1normal (kelabu).

D. LETAL RANGKAI KELAMIN
Pada Drosophila, ayam dan merpati dikenal dengan adanya gen rangkai kelamin yang bersifat letal. Gen itu terletak pada fragmen nonhomolog kromosom X. Sesungguhnya bersifat resesif, tapi pada jantan yang hemizigot, bisa jadi letal. Oleh kehadiran gen letal pada kromosom X ini maka ½ bagian anak yang jantan akan mati waktu embrio. Di sepihak ini bermanfaat bagi manusia untuk membuat keturunan suatu serangga yang makin susut, di pihak lain merugikan jika terdapat pada ayam yang perlu untuk peternakan.
Kromosom X yang mengandung gen mutant yang jadi letal itu diberi simbol X’. Skema sebagai berikut:
P: ♂ XX x XV ♀

♀ X X’
X XX XX’
Y XY X’Y
F:







Ratio : 1XX: 1XX’: 1XY: 1X’Y
2 hidup: 1 hidup: 1 mati larva.
Letal rangkai kelamin pada Drosophila.



BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Gen letal atau gen kematian adalah gen yang dalam keadaan homozigotik dapat menyebabkan kematain individu yang dimilikinya. Ada gen letal yang bersifat dominan dan ada pula yang resesip. Gen letal ialah gen yang dapat mengakibatkan kematian pada individu homozigot. Kematian ini dapat terjadi pada masa embrio atau beberapa saat setelah kelahiran. Akan tetapi, adakalanya pula terdapat sifat subletal, yang menyebabkan kematian pada waktu individu yang bersangkutan menjelang dewasa. Ada dua macam gen letal, yaitu gen letal dominan dan gen letal resesif. Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek subletal atau kelainan fenotipe, sedang gen letal resesif cenderung menghasilkan fenotipe normal pada individu heterozigot.
Peristiwa letal dominan antara lain dapat dilihat pada ayam redep (creeper), yaitu ayam dengan kaki dan sayap yang pendek serta mempunyai genotipe heterozigot (Cpcp). Ayam dengan genotipe CpCp mengalami kematian pada masa embrio. Apabila sesama ayam redep dikawinkan, akan diperoleh keturunan dengan nisbah fenotipe ayam redep (Cpcp) : ayam normal (cpcp) = 2 : 1. Hal ini karena ayam dengan genotipe CpCp tidak pernah ada.
Sementara itu, gen letal resesif misalnya adalah gen penyebab albino pada tanaman jagung. Tanaman jagung dengan genotipe gg akan mengalami kematian setelah cadangan makanan di dalam biji habis, karena tanaman ini tidak mampu melakukan fotosintesis sehubungan dengan tidak adanya khlorofil. Tanaman Gg memiliki warna hijau kekuningan, sedang tanaman GG adalah hijau normal. Persilangan antara sesama tanaman Gg akan menghasilkan keturunan dengan nisbah fenotipe normal (GG) : kekuningan (Gg) = 1 : 2.


B. SARAN
Dari keterangan dimuka dapat diketahui, bahwa gen letal dominan dalam keadaan heterozigotik akan memperlihatkan sifat cacat, tetapi gen letal resesip tidak demikian halnya. Berhubung dengan itu lebih mudah kiranya untuk mendeteksi hadirnya gen letal dominan pada satu individu daripada gen letal resesip.
Gen-gen letal dapat dihilangkan (dieliminir) dengan jalan mengadakan perkawinan berulang kali pada individu yang menderita cacat akibat adanya gen letal. Tentu saja hal ini mudah dapat dilakukan pada hewan dan tumbuh-tumbuhan tetapi tidak pada manusia.
Kemampuan mendieliminir gen letal hendaknya harus dilakukan oleh kita semua, terutama bagi mereka yang bekerja/berwiraswasta di bidang peternakan atau pertanian. Dengan memiliki kememampuan mendieliminir gen letal ini, tentunya akan dapat menghasilkan hasil yang lebih unggul yang tentunya kan mendapatkan produk/panen yang baik dengan kualitas yang baik.

Organ Pada Tumbuhan

Makalah oleh Frandianus Agustinus, Hapsari Nilam Ressati, Nanik Lestari, Dewi Kurnia, Ari Imelda.

Tugas Struktur Tumbuhan
STKIP PERSADA KHATULISTIWA SINTANG

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat kasih dan karunia-Nyalah, kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini tepat pada waktunya. Ada pun tema yang diangkat dalam makalah ini adalah membahas tentang “ Struktut Organ pada Tumbuhan”. Makalah ini dibuat dan dipersiapkan dalam rangka untuk memenuhi tugas terstruktur pada mata Kuliah Struktur Tumbuhan.
Dalam penyelesaian makalah ini kami menyadari bahwa hal ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Maka dari itu penulis ingin mengucapkan terina kasih terutama kepada Ibu Klara Niuntri, S.P sebagai Dosen Pegasuh Mata Kuliah Struktur Tumbuhan yang telah menyumbangkan pengetahuannya untuk kami, terutama pengetahuan yang berkenaan dengan tema yang dibahas dalam makalah ini, sehingga memotivasi kami untuk membahas tema ini secara lebih mendalam. Ucapan terima kasih juga tak lupa kami berikan kepada teman-teman sekelas, yang sama-sama berjuang dan saling menyemangati selama proses penulisan makalah ini sampai selesainya.
Akhirnya, disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki, kami menyadari bahwa karya tulis ini belumlah sempurna dan masih terdapat kekurangannya. Maka dari itu, dengan kerendahan hati kami menerima kritik dan saran yang membangun demi perbaikan tulisan ini ke arah yang lebih baik. Kami juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pembaca, terutama untuk menambah pengetahuan kita untuk mengetahui organ pada tumbuhan.

Sintang, November 2011

Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Semua bagian tubuh tumbuh-tumbuhan atau sering disebut sebagai alat hara, secara langsung ataupun tidak langsung berguna untuk menegakkan kehidupan tumbuhan, ada bagian tubuh yang berguna untuk penyerapan, ada yang berguna untuk pengolahan, pengakutan, dan ada pula yang berguna untuk penimbunan zat-zat makanan. Jika salah satu unsur dari alat hara tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik dari bagian tubuh tumbuhan, maka jenis tumbuhan yang tidak mampu bertahan, cepat atau lambat tumbuhan tersebut akan mati, dan bukan hal yang aneh bila kita sering menjumpai hal tersebut pada tanaman. Supaya tumbuhan dapat tumbuh dengan baik, maka kita perlu mengenal bentuk dan struktur dari bagian tubuh tumbuhan tersebut. Dengan demikian dapat memperlakukan suatu tanaman dengan baik.
Dalam kalangan masyarakat luas, jika melihat suatu jenis tumbuhan, dianggap sebagai hal yang biasa, tetapi jika diperhatikan secara seksama, tumbuhan memiliki keunikannya tersendiri. Struktur tumbuhan yang lengkap terdiri atas akar, batang, daun, bunga. Bermacam struktur tersebut merupakan stuktur yang dapat bekerjasama antara yang satu dengan yang lainnya dalam melangsungkan kehidupan tumbuhan.
Menyikapi permasalahan yang ada, kepada para pembaca, penyusun mencoba memperkenalkan beberapa organ dari tumbuhan yaitu mulai dari akar sampai bunga. Tema ini penyusun angkat karena, berbagai organ tersebut memiliki peranan penting dalam kehidupan suatu tumbuhan. Di samping itu, bila kita mampu mengkaji setiap organ dari tumbuhan tentunya akan dapat meningkatkan rasa keinginan kita untuk melihat langsung bahkan menanamnya serta memliharanya dengan baik. Seperti yang kita ketahui, beberapa jenis tanaman memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi.




2. Rumusan Masalah
Untuk lebih memfokuskan dan mengoptimalkan pembahasan, maka permasalahan yang diangkat pada pembahasan makalah ini hanya terbatas pada beberapa hal di bawah ini, diantaranya:
a. Bagaimanakah sifat, struktur dan apa fungsi akar?
b. Bagaimanakah sifat, struktur dan apa fungsi batang?
c. Bagaimanakah sifat, struktur dan apa fungsi daun?
d. Bagaimanakah sifat, struktur dan apa fungsi bunga?
e. Bagaimankah sifat dan struktur buah dan biji?

3. Tujuan Penulisan Makalah
Ada pun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
a. Untuk mengetahui sifat struktur dan fungsi akar.
b. Untuk mengetahui sifat struktur dan fungsi batang.
c. Untuk mengetahui sifat struktur dan fungsi daun.
d. Untuk mengetahui sifat struktur dan fungsi bunga.
e. Untuk mengetahui sifat dan struktur buah dan biji.

4. Manfaat Penulisan Makalah
Ada pun penyusunan makalah ini secara umum diharapkan dapat memberi manfaat diantaranya:
a. Sebagai salah satu alternatif bacaan untuk menambah pengetahuan tentang organ pada tumbuhan.
b. Untuk mempertajam kemampuan untuk mengidentifikasi organ pada suatu tumbuhan.










BAB II
PEMBAHASAN
Organ-organ yang terdapat pada tumbuhan adalah sebagai berikut:
1. Akar (Radix)
Akar merupakan bagian bawah dari sumbu tumbuhan dan biasanya berkembang di bawah permukaan tanah, meskipun terdapat juga akar yang tumbuh di atas tanah.
a. Sifat akar dan fungsi akar
Sifat akar secara umum sebagai berikut:
 Cenderung tumbuh ke bawah atau ke samping (geotropisme).
 Umumnya berwarna kecoklatan, tidak berwarna hijau.
 Pada akar primer, floem dan xilem tersusun dalam radius yang berbeda.
 Ujung akar mempunyai zona pertumbuhan yang pendek dan dilindungi tudung akar.
 Di daerah dekat ujung akar dijumpai adanya rambut akar.
 Kondisi lingkungan seringkali mempengaruhi pertumbuhan akar.
 Akar berkembang dari meristem apikal di ujung akar yang dilindungi kaliptra (tudung akar).
Fungsi akar secara umum sebagai berikut:
 Tempat melekatnya tumbuhan pada media (tanah) karena akar memiliki kemampuan menerobos lapisan-lapisan tanah.
 Menyerap garam mineral dan air, melalui bulu-bulu akar, air masuk ke dalam tubuh tumbuhan.
 Pada beberapa tanaman, akar digunakan sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan, misalnya ketela pohon.
 Pada tanaman tertentu, seperti jenis tumbuhan bakau, akar berperan untuk pernapasan.
 Menyokong tumbuhan agar berdiri tegak.
 Menahan berdirinya tumbuhan.
b. Struktur morfologi akar
Sistem perakaran tumbuhan dibedakan menjadi sistem perakaran serabut dan tunggang. Sistem perakaran tunggang terdapat pada tumbuhan Dicotyledoneae dan Gymnospermae yang tumbuh dari bagian ujung hipokotil yang berkembang dari akar lembaga, yaitu akar primer.

Akar primer tumbuh menjadi batang akar, bercabang sebagai akar lateral. Bagian dewasa dari akar, biasanya mengalami penebalan sekunder. Pada permukaan akar sel epidermis membentuk bulu akar dan setiap ujung percabangan akar disebut kaliptra.
Sistem perakaran serabut terdapat pada tumbuhan Monocotyledoneae. Akar primer mereduksi sehingga akar tumbuh pada buku-buku batang sebagai akar liar (Radix adventitious). Umumnya akar serabut tidak mengalami penebalan sekunder.
Pada Monocotyledoneae, akar biasanya mati pada awal pertumbuhan dan sistem akar dari tumbuhan dewasa terdiri atas sejumlah akar serabut. Akar mempunyai struktur luar yang meliputi tudung akar, batang akar, cabang akar (pada Dicotyledoneae dan Gymnospermae), dan bulu akar.


c. Struktur anatomi akar
Secara umum struktur anatomi akar tumbuhan sebagai berikut:
 Epidermis terdiri dari satu lapis sel yang tersusun rapat, dinding selnya tipis dan memiliki rambut-rambut akar.
 Korteks terdiri dari banyak sel dan tersusun berlapis-lapis, dinding selnya tipis dan mempunyai banyak ruang antarsel.
 Endodermis terletak di sebelah dalam korteks, berupa satu lapis sel yang tersusun rapat tanpa ruang antarsel. Dinding selnya mengalami penebalan gabus, dan deretan sel-sel endodermis ini disebut pita kaspari.
 Stele (silinder pusat) terletak di sebelah dalam endodermis, dimana berkas pengangkut terdapat di antara stele.
1. Struktur anatomi akar tumbuhan Dicotyledoneae
Jaringan Letak Fungsi
a Epidermis atau eksodermis Bagian terluar akar. Jalan masuk air dan garam mineral.
b Korteks Di sebelah dalam epidermis. Cadangan makanan.
C Endodermis Lapisan antara korteks dan perisikel. Mengatur masuknya air tanah ke dalam pembuluh dan menyimpan zat makanan.
D Perisikel Sebelah lapisan dalam endodermis. Membentuk cabang akar dan kambium gabus.
E Xilem Bagian tengah akar. Mengangkut air dan garam mineral dari dalam tanah.
F Floem Di antara jari-jari yang dibentuk oleh xilem. Mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan.
G Empulur Bagian tengah. Menyimpan cadangan makanan.

Dicotyledoneae tersusun radial atau membentuk jari-jari. Xilem berbentuk bintang di pusat dan floem mengelilingi xilem. Di antara xilem dan floem terdapat kambium. Aktivitas kambium ke arah luar membentuk unsur kulit dan ke arah dalam membentuk unsur kayu.
2. Strukutur anatomi akar Monocotyledoneae
Struktur anatomi akar tumbuhan monokotil sebagai berikut:
 Epidermis, korteks, dan perisikel memiliki struktur, lokasi,dan fungsi seperti pada akar tanaman Dicotyledoneae.
 Fungsi xilem dan floem sama seperti pada tanaman dikotil, tetapi letak keduanya berdekatan karena tidak memiliki kambium.
 Empulur terletak di bagian tengah serta dikelilingi xilem dan floem yang berselang-seling.

2. Batang
a. Sifat dan fungsi batang
Pada umumnya batang memiliki sifat-sifat berikut:
 Berbentuk seperti tabung (silindris).
 Terdapat ruas-ruas batang (internode) yang dibatasi buku-buku batang (node) dimana pada node terdapat daun.
 Biasanya tumbuh tegak di atas tanah menuju cahaya matahari.
 Pada tumbuhan dikotil selalu bertambah panjang dan mengadakan percabangan.
 Mengadakan percabangan yang tidak digugurkan, kecuali cabang atau ranting kecil.
 Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya masih pendek, misalnya pada batang yang masih muda.
Adapun fungsi batang yaitu:
 Temapat pengangkutan air dan unsur hara dari akar ke daun.
 Memperluas tajuk tumbuhan untuk efisiensi penangkapan cahaya matahari.
 Tempat tumbuhnya organ-organ generatif.
 Pada tumbuhan tertentu, sebagai tempat cadangan makanan.
b. Struktur morfologi batang
Batang tumbuhan berbiji (Spermatophyta) memiliki bagian buku batang dan ruas, kuncup atau tunas (gemma), daun serta bunga. Pada umumnya kuncup tumbuh pada buku batang.
Kuncup pada batang berdasarkan posisi pada batang dibedakan antara kuncup ujung (gemma terminalis) dan kuncup samping (gemma aksilaris). Berdasarkan perkembangannya, kuncup dibedakan antara kuncup daun atau cabang (gemma foliifera), kuncup bunga (gemma floriifera) dan kuncup campuran (gemma mixta).
Berdasarkan pertumbuhan dan perkembangannya, kuncup daun/cabang batang pokok pada tumbuhan dibedakan menjadi:
1. Monocaulis, batang yang pertumbuhannya didominasi oleh kuncup ujung. Kuncup lateral mereduksi perbungaan sehingga terbentuk struktur batang tunggal.
a. Monocaulis monocarpi, misalnya pada keluarga pisang (Musaceae) dan Zingiberaceae.
b. Monocaulis polycarpi, misalnya pada kelapa (Cocos nucifera) dan aren (Arenga pinnata).
2. Monopodial, batang yang pertumbuhannya didominasi oleh kuncup ujung dan kuncup lateral. Misalnya pada jati (Tectona grandis).
3. Sympodial, batang yang pertumbuhannya didominasi oleh kuncup samping, kuncup ujung pertumbuhannya lambat. Misalnya pada paku resam (Gleichenia sp.).

Batang pokok tumbuhan berdasarkan arah tumbuhnya diklasifikasikan menjadi batang tegak, condong ke atas, mendatar, dan merayap. Arah tumbuh cabang batang memiliki dua tipe yaitu tegak (artotrop) dan mendatar (flagiotrop). Dalam perkembangannya, arah tumbuh cabang batang terhadap batang pokok dibedakan menjadi tegak, condong ke atas, menggantung, dan condong ke bawah.











c. Struktur anatomi batang
Struktur anatomi batang dari luar ke dalam yaitu:
Jaringan Ciri-ciri
1. Epidermis  Tersusun oleh selapis sel, tersusun rapat, tanpa ruang antarsel, dinding luar terdapat kutikula. Pada tumbuhan kayu yang telah tua, terdapat kambium gabus.
 Aktivitas kambium gabus melakukan pertukaran gas.
 Derivat epidermis adalah sel silika dan sel gabus.
2. Korteks  Tersusun oleh beberapa lapis sel parenkim yang tidak teratur dan berdinding tipis, banyak ruang antarsel.
 Terdapat kolenkim dan sklerenkim sebagai penyokong dan penguat tubuh.
 Sel-sel korteks sebelah dalam yang mengandung amilum disebut floeterma (sarung tepung).
3. Stele (silinder pusat)  Lapisan terluar disebut perisikel.
 Di dalamnya terdapat sel parenkim dan berkas pengangkut.

1. Struktur anatomi batang Dicotyledoneae
Adapun jaringan penyusun, letak, dan fungsi tiap-tiap jaringan penyusun batang Dicotyledoneae dijelaskan dalam tabel berikut:



Jaringan Letak Fungsi
a Epidermis Bagian terluar batang. Zat kitin pada batang melindungi agar tidak kehilangan air terlampau banyak.
b Korteks Di antara lapisan endodermis.  Sel-sel kolenkim sebagai jaringan penunjang.
 Sel-sel parenkim sebagai jaringan dasar, pengisi dan penyimpan zat.
c
Stele
 Perisikel
 Sebelah dalam lapisan endodermis.
 Menyelubungi berkas pembuluh batang.

Memberi kekuatan pada batang.
 Berkas pembuluh
1. Floem  Bagian dalam perisikel.
 Bagian luar berkas pembuluh atau bagian luar kambium. Pengangkutan zat.

Mengangkut zat makanan hasil fotosintesis menuju ke seluruh tubuh.
2. Xilem Bagian dalam berkas pembuluh atau bagian dalam kambium. Mengangkut air dan garam mineral yang diserap akar menuju daun.
3. Kambium Di antara berkas pembuluh xilem dan floem. Ke dalam membentuk jaringan xilem dan ke luar membentuk jaringan floem.

Khusus pada batang Dicotyledoneae dan Gymnospermae terjadi pertumbuhan batang sekunder, yaitu pertambahan besar batang disebabkan oleh pertambahan jaringan sekunder pada jaringan primer, dan merupakan aktivitas kambium. Sehingga jaringan kambium disebut titik tumbuh sekunder.
Aktivitas kambium menyebabkan terbentuknya lingkaran tahun, yaitu lingkaran atau lapisan yang menunjukkan kambium melakukan pembelahan. Lingkaran tahun berupa lapisan melingkar berselang-seling berupa garis dan berguna untuk memperkirakan umur pohon.
1. Struktur anatomi batang Monocotyledoneae
Adapun jaringan penyusun, letak, dan fungsi tiap-tiap jaringan penyusun batang Monocotyledoneae dijelaskan dalam tabel berikut:
No Jaringan Letak Fungsi
a Epidermis Bagian terluar batang. Perlindungan terhadap kehilangan air.
b Meristem dasar Seluruh jaringan yang berada di bagian dalam epidermis. Pada tumbuhan Monocotyledoneae belum begitu jelas.

c Berkas pumbuluh Tersebar pada meristem dasar dan dilindungi sarung berkas pengangkut. Xilem dan floem berfungsi seperti pada tumbuhan Monocotyledoneae.

Secara morfologi terdapat perbedaan yang jelas antara batang tumbuhan Monocotyledoneae dan Dicotyledoneae. Tumbuhan Dicotyledoneae umumnya mempunyai batang yang bagian bawahnya lebih besar dan ke ujung semakin mengecil serta dapat mempunyai percabangan atau tidak.
Sebaliknya, batang tumbuhan Monocotyledoneae umumnya mempunyai ukuran yang relatif sama dari pangkal sampai ke ujung batang.


3. Daun (Folium)
a. Sifat dan fungsi daun
Secara umum daun mempunyai sifat berikut:
 Hanya terdapat pada batang dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tubuh tumbuhan.
 Biasanya berbentuk tipis melebar dan berwarna hijau.
 Daun mempunyai umur terbatas, setelah gugur akan meninggalkan bekas pada batang.
Secara umum fungsi daun sebagai berikut:
 Asimilasi makanan, terjadi proses pembuatan makanan yang digunakan tumbuhan untuk kelangsungan proses seterusnya.
 Respirasi, berfungsi sebagai organ pernapasan dimana terdapat stomata yang berfungsi untuk pertukaran gas. Daun mengambil CO2 di udara dan melepas O2 ke udara.
 Transpirasi dan gutasi, tumbuhan yang kelebihan air dapat menyebabkan kebusukan dan mati. Sehingga air tersebut dikeluarkan oleh tumbuhan dalam bentuk uap air melalui mulut daun/stomata.
b. Struktur morfologi daun
Secara morfologi, daun yang lengkap memiliki bagian-bagian berupa: vagina (pelepah daun), petiolus (tangkai daun), tulang daun, dan lamina (helaian daun). Daun disebut tidak lengkap jika daun tidak memiliki salah satu bagian pokok daun.
Daun tidak lengkap dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
1. Daun bertangkai, artinya daun yang hanya memiliki helaian dan tangkai daun. Misalnya daun nangka (Artocarpus integra).
2. Daun berpelepah, artinya daun yang hanya memiliki helaian daun dan pelepah. Misalnya daun jagung (Zea mays).
3. Daun duduk, artinya daun yang hanya memiliki helaian daun saja, misalnya daun tempuyung (Sonchus arvensis).
4. Daun semu, artinya daun yang berkembang dari tangkai daun. Misalnya daun akasia (Acacia sp.).
Pada umumnya daun dikelompokkan berdasarkan susunan atau struktur tertentu.
1. Bentuk helaian daun
Bila dilihat dari posisi relatif bagian daun paling lebar, daun dikelompokkan:
a. Bagian paling lebar di bawah tengah-tengah daun, bentuknya bulat telur, segitiga, jantung, dan panah.
b. Bagian paling lebar di tengah helaian daun, bentuknya bundar, dan memanjang.
c. Bagian paling lebar di atas tengah-tengah daun, bentuknya segitiga terbalik.
d. Bagian daun sama lebar, bentuknya garis, pita, dan jarum.
2. Tepi daun
Perbedaan bentuk tepi daun diakibatkan oleh adanya torehan (sinus) di tepi daun yang menimbulkan adanya tonjolan (angulus) di tepi daun. Berdasarkan besarnya sudut sinus maupun angulus tetapi tidak merubah bentuk helaian, tepi daun dikelompokkan menjadi:
a. Bergerigi (serrate), apabila sinus bersudut runcing dan angulus bersudut runcing, misalnya daun Lantana camara.
b. Beringgit (crenate), apabila sinus bersudut runcing dan angulus bersudut tumpul, misalnya daun Kalanchoe pinnata (cocor bebek).
c. Bergigi (dentate), apabila sinus bersudut tumpul dan angulus bersudut runcing, misalnya daun Pluchea indica (beluntas).
d. Berombak (rephandate), apabila sinus bersudut tumpul dan angulus bersudut tumpul, misalnya daun Antigonon leptotus (air mata pengantin).
e. Rata (integer), apabila tidak ada sinus dan angulus, misalnya daun Artocarpus integra (nangka).
3. Susunan tulang daun
Tulang daun yang berhubungan langsung dengan tangkai daun merupakan tulang daun utama yang umumnya membagi daun menjadi dua sisi lateral yang disebut ibu tulang daun (costa).
Ibu tulang daun memiliki percabangan yang disebut tulang cabang atau cabang lateral. Dari cabang lateral tumbuh pertulangan daun yang terhalus yang disebut urat daun (vena).
Berdasarkan susunan cabang lateral (tulang daun), daun dikelompokkan menjadi:
a. Menyirip (penninerve), tulang daun tersusun seperti sirip ikan. Misalnya daun mangga (Mangifera indica).
b. Melengkung (arvinerve), sejumlah tulang daun melengkung tersusun seperti susunan jari dan berasal dari satu titik (ujung tangkai daun). Misalnya daun senggani (Melastoma polyanthium).
c. Menjari (palminerve), sejumlah tulang daun lurus seperti susunan jari dan berasal dari satu titik (ujung tangkai daun). Misalnya daun waru (Hibiscus tiliaceus).
d. Sejajar (rectinerve), sejumlah daun tersusun sejajar dari pangkal sampai ujung helaian daun. Misalnya daun alang-alang (Imperata) cyllindri


4. Bentuk ujung daun
Bentuk ujung daun dapat dibedakan menjadi:
a. Runcing, bentuk ujung bersudut runcing dengan dua sisi yang lurus dan bersudut lancip. Misalnya daun nerium.
b. Meruncing, bersudut runcing tetapi dua sisinya membelok. Misalnya daun sirsat (Annona muricata).
c. Tumpul, ujung bersudut tumpul atau kurang dari 90o. Misalnya daun sawo kecik.
d. Membulat, ujungnya tidak mempunyai sudut sehingga membulat, terdapat pada daun yang berbentuk bulat. Misalnya daun pegagan.
e. Rompang, ujung daun rata dan terdapat pada daun yang mempunyai bentuk segitiga terbalik. Misalnya daun semanggi.
f. Terbelah, bentuk ujung daun menunjukkan suatu torehan atau belahan, kadang nampak nyata. Misalnya daun sidaguri.
g. Berduri, ujung daun ditutupi oleh daun keras. Misalnya daun nanas sebrang.
c. Strukur anatomi daun
1. Epidermis
Berupa satu lapis sel yang dindingnya mengalami penebalan zat kutin (kutikula) atau dari lignin. Terdapat stomata yang diapit oleh dua sel penutup. Alat-alat lain yang terdapat di antara epidermis daun antara lain trikoma (rambut) dan sel kipas.
2. Mesofil (jaringan dasar)
Terdiri atas sel-sel parenkim yang tersusun renggang dan banyak ruang antarsel yang terdapat di sebelah dalam epidermis. Mesofil terdiferensiasi menjadi parenkim palisade (jaringan tiang) dan paernkim spons 9jaringan bunga karang).
3. Berkas pengangkut
Terdapat pada tulang daun yang berfungsi sebagai alat transpor dan sebagai penguat daun.

4. Jaringan tambahan
Meliputi sel-sel khusus yang umumnya terdapat pada mesofil daun, misalnya sel-sel kristal dan kelenjar.
1. Struktur daun Dicotyledoneae
Adapun macam jaringan daun Dicotyledoneae, letak, fungsi dan ciri:

Jaringan Letak Fungsi Ciri-ciri
A Epidermis Menyusun lapisan permukaan atas dan bawah daun.  Melindungi lapisan sel di bagian dalam dari kekeringan.
 Menjaga bentuk daun agar tetap. Terdiri dari satu lapis sel kecuali tanaman karet.
B Kutikula Melapisi permukaan atas dan bawah daun. Zat kutin untuk mencegah penguapan air melalui permukaan daun. Penebalan dari zat kutin.
C Stomata Melapisi permukaan atas dan bawah daun.  Jalan masuk dan keluarnya udara.
 Sel penjaga mengatur membuka dan menutupnya stomata. Mulut daun dengan dua sel penutup.
D Rambut dan kelenjar Permukaan atas dan bawah daun. Alat pengeluaran. Alat tambahan
E Mesofil Di antara lapisan epidermis atas dan bawah. Tempat berlangsungnya fotosintesis.  Terdiri dari sel parenkim dan banyak ruang antarsel.
 terdiferensiasi membentuk jaringan fotosintetik berisi kloroplas.
 palisade berbentuk silinder, tersusun rapat dan mengandung klorofil.
 Jaringan spons bentuknya tidak teratur, bercabang, berisi kloroplas, susunan tidak rapat.
F Urat daun Pada helai daun. Transportasi zat Menyirip atau menjari.
2. Struktur daun Monocotyledoneae
Adapun macam jaringan daun Monocotyledoneae, letak, fungsi dan ciri:
Jaringan Letak Fungsi Ciri-ciri
a Epidermis dan kutikula Lapisan permukaan atas dan bawah daun.  Melindungi lapisan sel di bagian dalam dari kekeringan.
 Mencegah penguapan air melalui permukaan daun. Terdiri dari satu sel dengan penebalan dari zat kutin.
b Stomata Berderet di antara urat daun. Jalan masuk dan keluarnya udara. Mulut daun dengan dua sel penutup.
c Mesofil Pada cekungan di antara urat daun. Membuat zat makanan melalui fotosintesis. Tidak mengalami diferensiasi, bentuknya seragam kecuali mesofil berkas pengangkut lebih besar, kloroplas lebih sedikit, dinding lebih tebal.
d Urat daun Pada helai daun. Transportasi zat. Sejajar dan melengkung.



4. Bunga
Bunga lengkap memiliki bagian-bagian sebagai berikut
1. Kelopak, umumnya bewarna hijau dan berfungsi menutup bunga di saart masih kuncup.
2. Mahkota bunga, merupakan yang indah bewarna-warni.
3. Benang sari dan serbuk sari sebagai alat kelamin jantan.
4. Putik sebagai alat kelamin betina.
5. Dasar dan tangkai bunga sebagai tempat kedudukan bunga.
Fungsi utama bunga adalah sebagai alat perkembangbiakan generatif. Perkembangbiakan generatif adalah perkembangbiakan yang dimulai deengan pembuahan. Pada tumbuhan berbunga pembuahan yang terjadi dimulai dengan penyerbukan. Penyerbukan merupakan peristiwa jatuhnya serbuk sari ke kepala putik. Bagian bunga yang paling menarik adalah mahkota. Mahkota yang indah dan berbau menyengat menarik perhatian serangga, seperti kupu-kupu, kumbang dan lebah. Akibatnya tanpa disadari proses penyerbukan terjadi. Bagi manusia bunga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan, perlengkapan upacara adat dan bahan rempah-rempah.
Secara anatomi, daun mahkota dan daun kelopak mempunyai struktur yang sama yaitu terdapat sel – sel parenkimatis. Parenkim ini disebut mesofil. Parenkim ini terletak antara epidermis atas bawah.
Struktur daun mahkota sel – selnya mempunyai satu atau banyak berkas pengakut yang kecil – kecil. Daun mahkota mempunyai epidermis berbentuk khusus, yaitu berupa tonjolan yang disebut papila dan dilapisi kutikula.
Sementara itu, benang sari dan putik mempunyai struktur yang sangat berbeda. Secara umum benang sari terdiri atas kepala sari dan tangkai sari. Tangkai sari tersusun atas jaringan dasar yaitu sel – sel parenkimatis. Pada epidermis tangkai sari terdapat kutikula, trikomata, atau mungkin stomata. Kepala sari mempunyai struktur yang kompleks, terdiri atas dinding yang berlapis-lapis, dan di bagian terdalam terdaat lokulus (ruang sari) yang berbutir-butir serbuk sari.
Putik (pisitilium) mempunyai struktur yang sangat kompleks, seperti telah dikemukakan, bagian – bagian yang menyusun putik adalah daun – daun yang telah mengalami metamorfosis yaitu daun buah (carpellum). Daun – daun buah itulah yang akhirnya merupakan bagian buah paling luar.
5. Buah dan Biji
Apabila serbuk sari dan telah masak dan terjadi penyerbukan yang diikuti pembuahan maka bakal buah akan tumbuh menjadi buah. Sementara itu, bakal biji yang terdapat dalam bakal buah akan tumbuh menjadi biji.
Buah yang semata – mata terbentuk dari bakal buah disebut buah telanjang atau buah sejati. Sementara itu, buah yang terjadi selain dari bakal buah tetapi oleh bagian bunga yang lain disebut buah palsu atau semu.
Pada umumnya biji terdiri atas bagian – bagian seperti kulit biji, tali pusar, inti biji atau isi biji.
Kulit biji merupakakan bagian terluar biji dan berasal dari selaput bakal biji. Pada umumnya, kulit biji dari tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) terdiri atas dua lapisan sebagai berikut.
a. Lapisan kulit luar (testa). Lapisan ini mempunyai sifat yang bermacam, ada yang tipis, ada yang kaku seperti kulit, ada yang keras seperti kayu atau batu. Bagian ini merupakan pelindung utama bagi bagian biji yang ada di dalam.
b. Lapisan kulit dalam (tegmen). Biasanya tipis seperti selaput, disebut juga dengan kulit ari.

Sementara itu, pada tumbuhan biji terbuka, (Gymnospermae), kulit biji terdiri dari 3 lapis sebagai berikut:
a. Kulit luar (sarcotesta), biasanya tebal berdaging. Pada waktu masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning dan akhirnya merah.
b. Kulit tengah (sclerotesta), suatu lapisan yang kuat, keras dan berkayu.
c. Kulit dalam (endotesta), biasanya tipis seperti selaput dan seringkali melekat pada inti.
Bagian lain dari biji adalah tali pusar disebut juga tangkai biji. Setelah biji masak, biji akan terlepas dari tali pusarnya (tangkai biji), dan pada bijinya hanya tampak berkas yang dikenal sebagai pusar biji.
Bagian lain dari biji adalah inti biji. Inti biji adalah semua bagian biji yang terdapat dalam kulitnya, oleh sebab itu inti biji juga dapat dinamakan isi biji. Inti biji terdiri atas lembaga yang merupakan calon individu baru dan putih lembaga (albumen) yang merupakan jaringan berisi cadangan makanan untuk masa permulaan kehidupan tumbuhan baru (kecambah), sebelum dapat mencari makanan sendiri.













BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Organ tumbuhan, seperti halnya organ pada hewan, tersusun atas jaringan (sekelompok sel yang mempunyai keaktifan khas). Jaringan tersusun atas sel. Di dalam setiap sel hidup terdapat protoplasma yang dibatasi oleh dinding sel, dan di dalam sel itulah semua proses metabolisme terjadi.
Secara umum organ tumbuhan terdiri atas akar, batang, daun dan bunga. Akar tumbuh ke dalam tanah, sehingga memperkuat berdirinya tumbuhan. Akar juga berfungsi untuk mengambil air dan garam mineral dari dalam tanah. Pada batang terdapat daun yang berfungsi menghasilkan makanan melalui fotosintesis dan mengeluarkan air melalui transpirasi. Selain itu batang juga berperan untuk lewatnya air dan garam mineral dari akar ke daun dan lewatnya hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.
Bunga merupakan alat perkembangbiakan tumbuhan. Ada tumbuhan yag berbunga sempurna dan ada yang berbunga tidak sempurna. Bunga sempurna memiliki benang sari sebagai alat kelamin jantan dan putik sebagai alat kelamin betina.
Bunga yang tidak sempurna ada yang memiliki benang sari, tetapi tidak memiliki putik. Bunga yang demikian disebut bunga jantan. Sementara bunga yag tidak memiliki benang sari, tetapi memiliki putik disebut bunga betina. Ada tumbuhan yang berbunga tunggal, yaitu jika pada setiap tangkai hanya terdapat satu bunga. Ada pula tumbuhan yag berbunga majemuk, yaitu jika pada satu tangkai terdapat banyak bunga membentuk suatu rangkaian/ karangan. Dari bunga inilah akan tumbuh buah dan biji.
Keseluruhan dari organ tersebut berperan penting dalam proses kehidupan suatu tumbuhan. Akar, batang dan daun merupakan bagia yang tidak dapat terpisah dari suatu tanaman. Karena organ-organ tersebutlah terbentuk berbagai macam tumbuhan.


2. Saran
Setelah mengetahui bentuk, struktur dan fungsi dari berbagai organ tumbuhan, penyusun menyarankan bagi para pembaca khususnya yang berminat dalam bidang pertanian agar dapat benar-benar memahami organ – organ pad tumbuhan. Dengan memahami organ tersebut, maka kita akan tahu bagian mana saja yang dapat dikembangbiakan secara generatif atau bagian mana saja yang memilki nilai ekonomis yang tinggi.
Namun, kita juga perlu memilki jiwa yang tidak hanya memanfaatkan suatu tumbuhan tetapi mau melestarikan dengan menanam berbagai macam tumbuhan. Bila hal ini tidak kita miliki, maka generasi penerus kita tidak akan pernah bisa mengenal suatu tananaman secara nyata, di samping itu akan terjadi bencana di lingkungan sekitar kita dan pemanasan global akan semakin meningkat. Maka dari itu, marilah kita mulai mencintai tumbuhan dengan menanam dan memelihara tumbuhan.


















DAFTAR PUSTAKA

Mulyani, E.S, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Ibayati, Yayat. 2006. Panduan Menguasai Biologi. Bandung: Ganeca.

Sembiring, M.Sc, Ph.D, Langkah, dkk. 2006. Biologi Untuk Kelas XI SMA dan MA. Jakarta: Sunda Kelapa.